Pengalamanku Berinteraksi dengan Syiah

Belakangan ini ramai timeline yang mengingatkan bahaya Syiah. Saya tidak mau ikut-ikutan. Bukan karena saya tidak peduli atau tidak mau ambil bagian dalam upaya meluruskan akidah. Bukan, saya hanya heran, mengapa ramainya baru sekarang? Padahal saya sudah berinteraksi dengan Syiah sejak tahun ’90-an.

Interaksi Pertama

Tahun 1995 saya sudah banyak diperingatkan akan bahaya Syiah oleh ustad Fachri, guru tempat saya mengaji. “Hati-hati, dengan Syiah”, begitulah peringatannya. “Adzan orang Syiah (di Iran) dan tahiyyatnya beda dengan adzan kebanyakan. Mereka mengucapkan asyhadu anna aali rasulullah” (aku bersaksi Ali utusan Allah). Naudzubillah

Saat-saat Ustad Fachri masih mengingatkan bahaya Syiah, ramai berita seorang kiai (KH Nur Iskandar) yang melakukan nikah mut’ah. Berita ini hanya beredar di kalangan tertentu karena kepedulian akan agama tidak sebesar sekarang. Lagi pula, tahun itu belum ada media sosial yang memberi keleluasaan siapapun untuk menyampaikan informasi maupun pendapatnya di ruang publik.

Beliau sudah memperingatkan dari jauh hari karena lingkungan pergaulannya dengan Ahlul Bait yang riskan tersenggol Syiah. Loh, apa bedanya Ahlul Bait dengan Syiah? Penganut Syiah banyak berasal dari Ahlul Bait. Banyaknya penganut Syiah yang berasal dari Ahlul Bait bukan berarti Ahlul Bait itu pasti Syiah (tolong jangan dibalik-balik yaa ^_^).

Ahlul bait adalah sebutan untuk orang-orang yang nasab (keturunannya) masih tersambung sampai Nabi Muhammad Saw. Sebutan lain ahlul bait adalah “jamaah” (bukan islam jamaah apalagi jamaahnya Ustad Maulana loh yaaa). Contohnya dalam kehidupan sehari-hari adalah para Habib (sebutan untuk laki-laki yang nasabnya tersambung dengan Nabi Saw) dan Syarifah Habib (sebutan untuk perempuan yang nasabnya tersambung dengan Nabi Saw). Biasanya mereka menyimpan nasab ketersambungan keturunan mereka sampai Nabi Muhammad Saw. Ada Rabithah Alawiyyin yang khusus mengurus dokumentasi ketersambungan nasab para jamaah ini. Sedangkan keturunan para sahabat Nabi Saw disebut Masyaikh (golongan syaikh).

Kok bisa-bisanya orang-orang yang berdekatan dengan Rasulullah malah menyimpang bahkan nabinya juga beda?

Syiah berawal dari kejengkelan muawiyah yang mengharap jabatan dari Sayyidina Umar (saat itu sedang menjabat sebagai Amirul mukminin) tapi ditolak. Di jalan, Muawiyyah menyebarkan fitnah bahwa sebenarnya yang pantas menjadi Amirul Mukminin bukanlah Umar, tetapi Ali. Semakin berani menyebarkan fitnah dengan mengatakan bahwa seharusnya yang menjadi nabi itu bukan Muhammad, tapi Ali. Di sinilah sebab mengapa ada Syiah yang tetap menabikan Muhammad tapi membenci para Sahabat Nabi Saw, ada juga yang menabikan Ali Kwh.

Tapi mengapa mereka membenci para sahabat Nabi Saw? Dalam salah satu kitabnya syiah disebutkan, saat Rasulullah Saw wafat, Abu Bakar, Umar, dan Utsman datang dan mendobrak rumah Ali. Ali yang saat itu sangat ketakutan, lantas bersembunyi di balik tempat tidur. Setelah ditemukan, Ali ditodong untuk menandatangani baiat kepada Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Ali yang sangat ketakutan pun menuruti kehendak Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Menurut mereka (orang-orang Syiah), kekhalifahan mestinya langsung diberikan pada Ali karena Ali ada hubungan darah dengan Rasulullah Saw. Begitu ceritanya, lucu ya.

Mengapa saya bilang lucu? Pertama, Islam sangat melarang kepemimpinan dinasti. Kepemimpinan dalam Islam berdasar musyawarah-mufakat para pemimpin. Kedua, mereka (Syiah) yang bermaksud meninggikan Sayyidina Ali dan menjatuhkan sahabat lainnya pada cerita itu sebenarnya telah menjatuhkan Sayyidina Ali juga. Sayyidina Ali yang dikenal sebagai panglima perang mengapa bersembunyi di balik tempat tidur ketika didatangi para Sahabat Nabi Saw? Sayyidina Ali yang dikenal mau mengorbankan nyawanya saat Abu Lahab dan para Kafir Quraisy ingin membunuh Nabi Saw dengan menggantikan dirinya di tempat tidur Nabi Saw agar beliau leluasa berhijrah, mengapa melempem melawan temannya sendiri?

Cerita seperti ini ga akan ditemui di internet. Saya dapat cerita ini dari guru saya langsung yang bersinggungan dengan Syiah. Makanya banyak peralatan syiah bertuliskan nama para sahabat tapi mereka injak-injak, contohnya keset dan sendal.

Di sisi lain, para jamaah justru sebaliknya, mereka sangat menghormati para Sahabat Nabi Saw. Lihatlah pada penamaan keturunan para jamaah yang banyak mengambil dari nama para Sahabat Rasul Saw. Lain dengan syiah yang hanya memakai nama Ali, Hasan, Husain, dan Fathimah pada penamaan keturunannya. Nah, dari nama kita sudah bisa lihat, mana Ahlul Bait yang Sunni dan mana yang Syiah. Yang biasa mereka (Syiah) jadikan tuntunan pun biasanya bukan Qur’an atau Hadits Nabi Saw, tapi perkataan Imam Khomaini. Seperti orang-orang Wahabi yang banyak mengutip perkataan Ibnu Taimiyyah.

Medadak Kaya Setelah Ber-Syiah

Awal 2000-an saya menemukan teman yang menjadi Syiah. Seperti banyak cerita, teman saya menghujat para Sahabat Rasul Saw dan meninggikan Ali Kwh. Kembali saya tanyakan, kenapa baru sekarang ramainya? Karena misi Yahudi yang ingin memecah-belah umat Islam indonesia saat ini benar-benar marak. Mengapa aliran-aliran sesat seperti ini mudah sekali berkembang seperti halnya Ahmadiyyah? Menurut desas-desus yang beredar, aliran-aliran seperti ini dapat suntikan dana langsung dari yahudi untuk merusak Islam dari dalam. Mengenai data aliran-aliran dana ini, bisa dicari sendiri di google.

Teman saya yang Ahlul Bait banyak yang keluarganya Syiah. Menurut pengakuannya, saat masih Sunni, kondisi ekonomi saudaranya biasa saja. Tapi ketika pindah ke Syiah mendadak bisnisnya lancar dan cepat kaya. Dari mana dananya? Kalau orang-orang Syiah menjawab karena mereka ada di pihak yang benar, justru kebenaran tidak diukur dari uang yang diperoleh. Meski teman saya tergolong berada, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan saudara Syiahnya yang komplek rumah keluarga beserta pekarangannya sebesar satu kelurahan.

Syiah Banyak Memberikan Pendidikan Gratis 

Saya pernah belajar Bahasa Arab di salah satu lembaga milih orang Syiah. Awalnya saya pikir itu milik Ahlul Bait. Berhubung yg saya pelajari Bahasa Arab, ya tetap saya lanjutkan. Wong gratis toh. Lain halnya jika yang ingin saya pelajari ilmu fiqih atau ilmu tafsir.

Karena macet di perjalanan sepulang dari kantor, saya selalu sampai di lokasi menjelang magrib habis.  Herannya, masih banyak saja orang-orang Syiah yang shalat. Di gedung sebesar itu tidak ada masjid, adanya mushalla kecil di lantai tiga. Yang unik lagi, di sana disediakan lempengan batu berwarna coklat sebesar jidat tapi berbentuk lingkaran seperti koin yang ada tulisannya. Tiap orang yang shalat mengambil batu itu kemudian diletakan di tempat sujudnya. Ya, mereka bersujud di atas batu ! Jujur, saya selalu bergidik melihatnya. Hawa gedungnya pun begitu sunyi dan beraroma “darah”.

Waduh, bukan nakut-nakutin, tapi itu yang saya rasakan. Kalo kata guru saya yang lain, saya memang punya sensitivitas terhadap hal-hal seperti itu. Lagipula, sudah banyak cerita tentang orang-orang Syiah yang merayakan tragedi Karbala dengan mencambuk dirinya sampai berdarah-darah. Mirip orang kristen yang disalib saat merayakan paskah karena ingin merayakan penderitaan Yesus.

Alhamdulillah, peringatan Ustad Fachri pada 1995 agar berhati-hati mencari guru belajar Agama Islam  benar-benar terpatri dalam diri saya. Dan berhubung saya sudah punya guru yang saya yakini kebenaran ajarannya. Jika mencari ilmu tambahan, ya hanya ilmu yang tidak menyentuh masalah akidah, seperti khat, kaligrafi, dan bahasa arab.

Iklan

Tentang syamhais

Instruktur TIK Kemenaker RI; Psychoanalys
Pos ini dipublikasikan di Agama dan Ummatnya dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s