Interaksi Dengan Nonmuslim

Saya hidup di lingkungan yang heterogen. Waktu kecil, rumah saya bersebelahan persis dengan China Protestan. Tapi tembok kami tidak langsung bertemu dengan tembok rumahnya. Pekarangannya yang luas hanya dijadikan tempat usaha. Bandingkan dengan tetanggaku di masa dewasa yang menjadikan rumah kecilnya sebagai rumah ibadah.

Seperti kebanyakan penganut kristen, ia juga memilihara beberapa anjing dari berbagai jenis. Untuk pertama dan terakhir kali melihat anjing yang lebih besar dari sapi (jenis doberman) ya di rumahnya. Selain anjing, ia juga memelihara binatang lainnya seperti burung merak, monyet, berbagai jenis burung, dan lain-lain. Kecuali sambutan (gonggongan) anjing-anjingnya yang selalu membuatku ketakutan, kicau burung di rumahnya menciptakan suasana yang menyenangkan. Apalagi burung meraknya, saya suka takjub melihat burung meraknya melebarkan sayap.

Itulah tetanggaku dari sejak aku kecil. Kadang ia mengajak aku belajar di rumahnya. Kadang pula ia bermain di rumahku. Saya senang diberikan latihan soal khas sekolah kristen yang bobotnya lebih berat dari tempat saya bersekolah. Mereka pun senang dengan ragam permainan khas anak Indonesia yang kerap kami mainkan. Budaya kami beda, tapi kami bisa saling menerima.

Hubungan yang sangat dekat membuat mereka hanya mengundang aku dan kakakku di acara ulang tahun salah satu anggota keluarganya. Padahal sekitar kami banyak tetangganya yang juga protestan. Ia pernah bilang, mereka lebih nyaman dengan kami dibanding dengan tetangga kristen lainnya.

Saling Berkunjung di Hari Raya

Tiap hari raya kita saling mengunjungi. Saat Hari Raya Idul Fithri kita sering memberikan ketupat dan opor ayam yang sangat mereka gemari. Tapi berhubung mereka tau kalau kita tdk boleh makan makanan yang diolah dengan wadah bekas Babi, mereka tidak pernah memberi makanan olahan rumah. Mereka tidak tersinggung dengan prinsip yang kami pegang, justru mereka hormati demi menjaga tali silaturahmi. Biasanya yang diberikan adalah kue Black Forest.

Bagaimana dengan natal? Orang tua kami, kadang mengajak anak-anaknya yang masih kecil saat itu, termasuk aku berkunjung ke rumah mereka pada tahun baru, bukan di hari natal. Meski mereka selalu mengunjungi kami di hari pertama Idul Fithri, mereka tidak marah dengan kunjungan kami yang lebih telat 6 hari (pada tahun baru). Dan ketika berkunjung, yang kami ucapkan hanya “Selamat Tahun Baru”. Begitulah cara kami dalam menyikapi perbedaan. Saling menghargai keberadaan masing-masing dan saling menghormati prinsip yang dipegang.  Semua itu berlangsung hingga kini.

Ketika dibangun gereja di daerahku yang posisinya persis menghadap rumahku, ayah langsung mencari rumah baru. Awalnya mau pindah ke daerah lain, tapi berhubung anak-anaknya tidak ada yang mau, terpaksa membeli tanah kosong di daerah yang sama tapi jauh dari gereja. Lagi pula, rumah yang dulu baru saja kena banjir. Ayahku yang sangat resik sangat tidak nyaman dengan kondisi itu. Di tanah yang dibangun menjadi rumah baru, kami terhindar dari bisingnya suara nyanyian gereja yang rutin dinyanyikan tiap malamnya.

Apa tetanggaku tersinggung krn kami meninggalkannya? Tidak. Berhubung masih satu daerah, kita masih rutin saling mengunjungi. Apalagi kedua orang tua kami. Hingga kini, mereka masih sering minta Ibuku membuatkan berbagai masakan khas Betawi. Selain dekat, katanya sekarang sulit mencari masakan Betawi yang seenak buatan ibuku.

Teman Sekolah yang Nonmuslim

Di SMA, saya duduk bersebelahan dengan Jawa Khatolik. Selama kami berteman, sering terjadi dikusi perbandingan agama, tapi tidak berbuah kebencian apalagi saling serang satu sama lain.

Selain itu, saya juga berteman dekat dengan etnis China penganut Budha. Kami sempat dialog masalah reinkarnasi dan stigma umat islam Indonesia. Kami bisa saling terima alasan masing-masing tanpa saling mencerca satu sama lain.

Selain bermain ke rumahnya, saya juga pernah diajak ke rumah saudaranya yang juga etnis China. Saya mau terima ajakannya karena saat itu sedang haidh jadi tidak perlu memikirkan di mana saya shalat. Mereka welcome dan ramah dengan kedatangan saya. Padahal keluarga saudaranya itu disekolahkan di salah satu sekolah kristen. Kefanatikan bukan berarti anti terhadap golongan lain di luarnya.

Pasca ‘98

Ketika dewasa, tiba-tiba saja hal ini menjadi masalah dan konflik antar agama. Saat kuliah, saya sangat merasakan betapa dimusuhinya saya oleh teman nonmuslim yang juga etnis China. Awalnya kami berteman dekat. Namun ia jadi tendensius saat saya mulai mengenakan jilbab yang cukup lebar. Beberapa teman muslim pun banyak yang tidak suka dengan perubahan saya.

Darimana semua ini? Api permusuhan bukan kita yang buat. Tapi kita mau saja dipecah- belah. Apa mungkin ini semua ada kaitannya dengan munculnya terorisme bertopengkan islam sehingga islam jadi identik dengan teroris? Kasihan pemikiran seperti ini, menilai seseorang berdasar sampel buruk di masyarakat kemudian menggeneralisasinya. Bukan mencoba mengenali dan mendalaminya sendiri. Kita menjadi anak-anak di usia dewasa. Padahal saat anak-anak, kita mampu bersikap dewasa.

Saya, dan mungkin juga sebgaian besar ummat beragama di manapun sangat ingin kembali bisa hidup rukun seperti sebelum tragedi ’98.

DSC_0161-meme

Tulisan serupa bisa dilihat di sini

Iklan

Tentang syamhais

Instruktur TIK Kemenaker RI; Psychoanalys
Pos ini dipublikasikan di Agama dan Ummatnya dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Interaksi Dengan Nonmuslim

  1. Dimyat Muqsith berkata:

    Semoga menginspirasi Indonesia….terutama umat Islamnya yg mayoritas smg istiqomah dg iman dan agamanya

    Suka

  2. syamhais berkata:

    amiinnn…. makasih pak Dim

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s