Berhenti Merayakan Perbedaan

Perbedaan selalu dijadikan alasan timbulnya konflik antara sesama. Mungkin beberapa di antara kita bisa saja berdalih, “kita beda, dan saling menghormati”. Tapi berapa banyak yang bisa seperti itu? Menghormati hak dan prinsip masing-masing tanpa saling menyinggung perasaan? Mengapa perbedaan terus diangkat dan diupayakan kesatuan dan kedamaiannya? Bukankah ini bukti bahwa perbedaan lah yang menimbulkan konflik?

 

Perbedaan Adalah Sunnatullah

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. [al-Nahl 16:93]

Perbedaan adalah hak-Nya, dari situ Allah Swt dapat menyaring, mana yang dapat mengambil hikmah dari berbagai perbedaan dalam kehidupan, dan mana yang hanya menjadikan perbedaan sebagai perdebatan, olok-olokan, dan bahkan permusuhan.

Orang-orang yang menjadikan perbedaan sebagai perdebatan, olok-olokan, dan bahkan permusuhan berarti tidak mengambil pelajaran dan hikmah yang telah ditunjukkan-Nya. Mereka tidak mau berupaya memahami keragaman manusia, tapi mereka ingin orang-orang memahami mereka. Mereka yang hanya menyikapi segala hal dengan sikap yang negatif, sehari-hari diisi kata-kata negarif. Hidupnya pun cenderung mengarah pada hal-hal negatif akibat pikiran negatif yang telah mereka anggap wajar itu.

 

Agar Saling Mengenal

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al-Hujaraat:13).

Hikmah perbedaan agar saling mengenal dan masing-masing saling mempelajarinya. Kalau sama semua susah untuk dikenali karena tidak ada ciri khas masing-masing. Kalau semua orang memiliki penampilan yang sama dan berasal dari keluarga yang sama, kita pun akan kesulitan untuk saling mengenali. Mengenali mereka yang terlahir sebagai kembar identik saja kita sering kesulitan. Apalagi jika semua manusia memiliki tampilan fisik yang sama? Padahal ini baru pada tampilan luarnya, belum pada kepribadian dan kapasitas diri.

Kalau Allah Swt hanya menakdirkan manusia berasal dari suku, bangsa, dan budaya yang sama, maka kita pun menjadi miskin ilmu karena tidak ada ilmu psikologi, sosiologi, dan ilmu-ilmu lain yang sejenis yang khusus membahas tentang manusia dan keragamannya.

Penemuan-penemuan ilmiah pun tidak akan terjadi karena kapasitas otak semua orang menjadi sama dan hanya memikirkan hal yang sama untuk mendapatkan hal yang sama. Kehidupan pun akan berputar pada hal-hal yang itu-itu saja karena tidak ada yang melakukan penemuan ilmiah dan teknologi baru untuk kemajuan kehidupan. Allah Swt menetapkan perbedaan untuk menunjukkan betapa luas ilmu-Nya.

Kita saja sering kesulitan mengenali kepribadian dan watak asli orang sekitar kita. Bahkan, masih banyak di antara kita yang juga masih kesulitan mengenali dirinya. Padahal, dalam salah satu hadits Qudsinya, Allah Swt berfirman, “Siapa yang mengenali Tuhannya, maka ia akan mengenali dirinya”. Jadi, untuk mengenali diri ini, kenali dulu siapakah Sang Pencipta. Kita dapat mengenali-Nya dari sifat 20 atau Asmaul Husna-Nya.

Jika kita sekolah dan belajar di tempat dan guru yang sama, punya prestasi yang sama, bekerja dan memiliki profesi yang sama dan lain sebagainya, maka kita pun akan kesulitan untuk mengenali satu sama lain. Karakter yang berbeda menjadikan kita memiliki minat dan bakat yang berbeda yang saling melengkapi dan mengisi satu sama lain.

Seandainya, semua memiliki karakter, minat, dan bakat yang sama, maka tidak ada hubungan timbal-balik antar sesama karena tidak ada rasa saling membutuhkan, semua merasa sudah terpenuhi kebutuhannya masing-masing. Kehidupan menjadi datar dan tidak berimbang karena terputusnya rantai kehidupan. Karenanya perbedaan itu untuk dihormati, bukan untuk dipaksa menjadi sama.

Semua yang serba sama menyebabkan tugas manusia di muka bumi menjadi sama. Kita jadi tidak butuh saling interaksi karena tidak saling membutuhkan, karena semua sama-sama memiliki hal yang sama dan kemampuan yang sama. Padahal, kita diciptakan sebagai mahkluk sosial. Untuk apa Allah Swt menciptakan kehidupan jika tidak saling berinteraksi?

Perbedaan hanya membutuhkan rasa saling memahami bahwa kita berbeda, dianugerahi karakter, watak, minat, dan bakat yang berbeda. Hidup tidak menjadi membosankan karena  perbedaan menjadikan kehidupan tidak hanya satu warna, tapi terisi oleh beragam warna.

Sama Bukan Seragam

Sama bukan berarti harus seragam. Biarkanlah penampilan dan dandanan yang berbeda. Biarkanlah gaya pakaian yang berbeda. Itu ciri khas. Jangan mengunggulkan penampilan yang satu di atas penampilan yang lainnya. “Don’t judge a book from it’s cover”. Penampilan itu cuma bungkus, yang dipakai isinya ! Tapi, isinya pun beda beda.

Contohlah buah-buahan di kebun. Mereka tumbuh di pohon yang berbeda, ukuran, kulit, isi, dan rasa yang berbeda. Tapi semuanya bisa bersama dalam satu kebun. Bagaimana rasanya jika dunia ini hanya ada satu buah yang bisa kita makan?

Jangan memaksa temanmu dari pendiam menjadi ramai, dari introvert menjadi ekstrovert, menyamakan hobi olahraga, film, seni, dan lain-lain. Jangan samakan pola pikir dirimu dengan orang lain. Hormatilah keunikan tiap orang. Berapa banyak orang yang hanya karena beda pendapat dan sikap saja sudah saling tidak menyukai, tidak mau berteman.

Jangan samakan penganut agama tertentu yang sudah memiliki prinsip tertentu melakukan hal yang sama dengan agama lain yang jelas-jelas dilanggar oleh agamanya. Banyak orang yang merasa beragama dengan memaksakan kehendaknya ini tanpa mereka sadari mereka telah gagal menjadi manusia.

Namun, dalam pergaulan sehari-hari, sebaiknya kita melihat persamaan di atas segala perbedaan. Dengan mengedepankan persamaan di atas segala perbedaan, pergaulan menjadi lebih mudah. Banyak yang bisa dieksplorasi dari persamaan-persamaan dan kemungkinan konflik dapat diminimalkan.

Topik pembicaraan yang dapat semakin mengkrabkan diri adalah topik yang sama-sama disukai. Bukan topik yang hanya disukai salah satu pihak saja. Berapa banyak orang hanya karena beda pilihan politik saja tidak lagi bertegur sapa. Dan berapa banyak yang menjadi teman karena merasa banyak kesamaan yang didapat? Jika kita ingin melakukan sesuatu, kita akan kita ingin melakukannya bersama dengan orang yang ingin melakukan hal yang sama atau yang berbeda? Persamaan mendahulukan kebersamaan di atas kepentingan pribadi. Perbedaan mementingkan egoisme diri.

Perbedaan bukan diabaikan apalagi sampai tidak ada. Tapi simpanlah perbedaan itu menjadi identitasmu yang menjadi ciri khas keunikanmu. Tak perlu dijadikan ajang perusak silaturahmi.

Cause we all live under the same sun. we all walk under the same moon. Then why can’t we live as one (Under the Same Sun – White Lion)

Iklan

Tentang syamhais

Instruktur TIK Kemenaker RI; Psychoanalys
Pos ini dipublikasikan di Agama dan Ummatnya, Interaksi dan Komunikasi dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Berhenti Merayakan Perbedaan

  1. Ping balik: Stigma Bid’ah Memecah-belah Ummat | Syamhais

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s