“Jilbab Hati” Itu Bid’ah

Saya bingung dengan orang-orang yang berdalih mau menjilbabkan hatinya dahulu baru mau berjilbab. Kata-kata seperti ini sering dijadikan alasan ketika ditanyakan kapan berjilbab oleh sesama saudaranya yang muslim. Kalau memang belum siap, apa susahnya untuk jujur ketimbang sekedar ngeles cuma supaya tidak disalahkan?

 

Sikap Saya Saat Belum Berjilbab

Saat saya belum berjilbab, banyak yang menanyakan hal serupa ke saya, terutama ketika masih sekolah. Maklumlah, dibandingkan teman-teman saya, pengetahuan dan kemampuan agamanya tergolong jauh lebih bagus. Orang pertama yang mengajarkan saya Huruf Alif sampai saya lancar membaca Al-Quran ya kedua orang tua saya. Ayah sangat disiplin untuk hal ini. Kakak saya yang bacaannya susah rapih sering kena tamparannya. Padahal saat itu kami masih sekolah di Madrasah Ibtidaiyyah (setingkat SD).

Apalagi teman-teman saya juga tau kalau saya pernah ikut belajar Qur’an yang dilagukan dengan orang pertama yang mengharumkan Indonesia melalu Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), yaitu Saidah Ahmad. Qari’ sekaliber Muammar ZA dan Qariah sebagus Mariah Ulfah juga belajar dengan beliau.

Selain bersekolah di Madrasah, saya juga ikut belajar bahasa Arab dengan seorang ustad yang khusus mengajarkan bahasa Arab, terutama ilmu Nahwu dan Shorof. Ilmu-ilmu agama begitu saya kuasai karena saat belajar bukan karena harus belajar, melainkan karena memang saya suka. Suka dengan semantik nahwu-sharaf yang begitu beragam. Suka dengan ilmu tajwid yang memperkaya perlaguan dalam Al-Qur’an. Suka dengan ilmu Fikih yang mengisyaratkan betapa Islam sangat mengedepankan kedisiplinan. Bekal ilmu agama sedari kecil yang diajarkan oleh ustad begitu terpatri dalam diri saya.

Lulus dari madrasah, saya melanjutkan ke salah satu SMP negeri di Jakarta Timur. Kebetulan saat itu ada tetangga baru yang rajin sekali keluarganya mengaji. Karena pengajiannya sesuai dengan yang diinginkan keluarga saya, kami sekeluarga ikut mengaji di tempat dan ustad yang sama dengan tetangga saya. Hal ini terus berlangsung hingga saya kuliah. Bukan berarti saat kuliah saya berhenti mengaji. Tapi saat kuliah saya menemukan guru yang saya rasa lebih pas untuk saya karena dia perempuan. Sebelumnya saya belum pernah menemukan langsung guru perempuan untuk mengkaji berbagai ilmu-ilmu Islam. dan semua itu berlanjut bahkan sampai saya kerja.

Kembali ke pertanyaan tadi, Alhamdulillah sejak kuliah semester 3 (tahun 2002) saya sudah berjilbab. Jika menyimak cerita saya di atas, pantaslah kalau banyak orang yang menanyakan kesediaan saya memakai jilbab. Mengikuti sindiran ustad saya sewaktu masih SMP, ya saya ikuti saja perkataannya, “jilbabnya yang ga mau saya pake”. Saya cukup sadar kondisi saya yang masih belum membatasi pergaulan saat itu. Pertanyaannya, apakah ada yang mau menjawab seperti saya?

Jilbab Hati?

Istilah “jilbab hati” maksudnya apa ya? Apakah menjaga hatinya dari segala keburukan? Kalau memang itu maksudnya, segeralah lakukan penjilbaban terhadap hati yang selama ini dijadikan alasan. Ada juga yang berdalih, “semuanya butuh proses”. Oh no! segala yang baik itu selalu sampai ke hati kita. Jika hati kita tersentuh dan membenarkan sesuatu, maka itulah kebenaran. Bukankah ingin menjilbabkan hati?

Kebenaran bukan berasal dari pikiran para perumus teori kebenaran yang berada di kampus-kampus. Kebenaran itu mutlak dari-Nya, dan disampaikan melalui kitab-Nya dan hati nurani kita. Itulah pentingnya rutin mempelajari Al-Qur’an dan terjemahnya dengan guru-guru yang memahami ilmu tafsir Qur’an. Bukan sekedar dibaca, apalagi dipajang di rak buku sampai berdebu.

Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan generasi Islam kian jauh dari agamanya tapi tak segan membawa dalil-dalil dan panji-panji agama untuk membenarkan dan menguatkan tindakan-tindakannya yang jelas-jelas tidak ada tuntunannya dalam Islam. Salah satunya, ya seperti pilihan ingin menjilbabkan hati dulu baru berjilbab.

Semua orang pada dasarnya mengetahui kebenaran, hanya saja, gengsi dan ego sering menutupi. Kalau hati sudah bersih, bukankah prasangka dalam diri akan hilang dan mudah menerima kebenaran, termasuk menggunakan jilbab?

Janganlah menunda-nunda hal-hal yang sudah kita ketahui karena menunda-nunda itu salah satu pekerjaan setan. Menunda-nunda berarti tidak meyakini bahwa hanya Allah Swt lah yang berkehendak atas kehidupan kita.

Siapa yang bisa menjamin esok, atau setelah membaca tulisan ini, kita tetap hidup dan tak kurang satu apapun? Selamamasih hidup, berarti kita masih diberikan kesempatan untuk bertaubat. Bukankah Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan senantiasa memperbaiki diri baik dhohir maupun bathin?  Tapi mengapa kita masih saja menunda-nunda dalam melaksanakan perintah-Nya?

Ada juga yang berdalih, “yang berjilbab saja banyak yang kelakuannya lebih parah dari pada yang tidak berjilbab”. Ini adalah dalih dalam bentuk prasangka terhadap orang-orang berjilbab. Bukankah bentuk prasangka ini justru membuktikan bahwa ia belum mampu menjilbabkan hatinya? Karena dalam suatu hadits shoheh disebutkan bahwa sesungguhnya prasangka memakan kebaikan, seperti api memakan kayu bakar.

Contoh Buruk Bukan Untuk Diteladani

Kalaupun itu memang benar terjadi, jadikan itu sebagai contoh yang buruk, bukan untuk diteladani, apalagi dijadikan dalih tidak mau berjilbab. Doakan saja supaya mereka segera kembali ke jalan yang benar sambil kita juga menata dzohir dan bathin masing-masing. Di sinilah pentingnya terus menerus belajar secara berjamaan agar dapat saling mengingatkan satu sama lain, bukan mencari-cari aib saudaranya sendiri.

Lantas, sampai kapan benar-benar mau berjilbab secara fisik kalau hatinya tak kunjung bisa dijilbabkan? Lebih baik akui saja secara jujur bahwa diri ini memang belum mampu menahan segala hawa nafsu yang ada.

Jilbab itu kewajiban. Jangan menjadikan alasan ingin menjilbabkan hati dahulu baru berjilbab fisik. Itu tidak ada ajarannya sama sekali dalam Islam. Kalau memang belum siap, katakan saja, jangan pedulikan apa reaksi orang berikutnya. Daripada mau terlihat baik tapi malah melakukan bid’ah dengan membuat perkara baru yang tidak ada ajarannya, yaitu Jilbab Hati.

Anyway, yang namanya kewajiban itu mau ga mau, suka ga suka ya musti dilaksanakan dengan baik dan benar. kalau tidak dikerjakan berarti telah melanggar. Kalo tidak dikerjakan dengan baik dan benar berarti menyalahi aturan. Janganlah berdalih orang yang berjilbab begini-begitu. Semoga mereka bisa terus memperbaiki akhlaknya dari hari ke hari. Sedangkan kewajibanmu, ya laksanakan.

tulisan ini sebelumnya ditayangkan di:

http://www.kabarumat.com/2015/03/1771/jilbab-hati-itu-apa/

Iklan

Tentang syamhais

Instruktur TIK Kemenaker RI; Psychoanalys
Pos ini dipublikasikan di Agama dan Ummatnya dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s