Kenangan Tentang Ustadzah Saidah Ahmad

 “Sam, Saidah Ahmad meninggal”, ucap ibuku saat kami sedang duduk-duduk

Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun,  kapan?” Tanyaku kaget

“Sudah sejak hari rabu (11 Maret 2015) kemarin”

“Ya Allah, itu kan guru”, aku berseru sedih dan menyayangkan karena baru tau empat hari setelahnya sehingga tidak sempat melayat

“Mama juga baru tau kemarin, itu juga orang yang bilang. Mama juga ga ngelayat”

Sedih, baru kemarin saya mengingat-ingat kembali kenangan-kenangan saat diajarkan beliau tentang ragam-ragam ilmu pembacaan Al-Qur’an dengan lagu.

*********************************************************

“Sam, nanti kamu ikut ngaji bareng Fitri tuh di Bukit Duri”, kata mama suatu hari saat aku masih duduk di kelas 5  Madrasah Ibtidaiyyah

“Nanti berangkatnya dianterin, atau bisa juga naik bajaj. Tapi untuk awal-awal bakal dianterin”, sambung mama seperti bisa menebak isi pikiranku

Untuk seusiaku saat itu (1993), Cawang-Bukit Duri bukanlah jarak yang dekat. Kita bahkan tidak pernah keluar kecuali bersama keluarga. Aku dan Fitri sama-sama bersekolah di madrasah yang sama di dekat rumah kami, di depan masjid. Maka mengaji di Bukit Duri adalah momen pertamaku dilepas rutin seminggu dua kali, bahkan orang tua kami yang menyuruh.

Sampai di lokasi, aku dan Fitri diminta mengisi formulir pendaftaran dahulu sebelum memulai mengikuti pengajian. Dari formulir itu aku tahu bahwa pengajian ini adalah pesantren Al-Qur’an yang pesertanya dibebaskan, mau menjadi santri di sana atau sekedar mengikuti pengajian umumnya. Aku dan Fitri memilih menjadi santri yang tidak mukim di sana.

 

Kesan Pertama Masuk Kelas

Hari pertama masuk kelas, mataku langsung tertuju pada spanduk di dalam kelas yang bertuliskan:

Tulisan di Spanduk Kelas

Tulisan di Spanduk Kelas Qur’an di Fathimiyyah

Yang artinya: “Sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya” (HR. Bukhari)

Ya, hadits ini sangat sesuai dengan misi pembelajaran Ma’had Fathimiyyah yang dipimpin oleh Ustadzah Saidah Ahmad. Pembelajaran Al-Qur’an mulai dari tajwid, makharijul huruf, cara baca murattal, hingga ragam membaca menggunakan lagu seperti yang lazim digunakan para Qari & Qari’ah.

Belakangan, ketika dewasa, aku baru menyadari bahwa mempelajari Al-Qur’an tidak terbatas pada ilmu-ilmu tersebut. Apalagi hadits tersebut menyebutkan, selain mempelajari juga mengamalkan.

Amal bukan sekedar Qur’an dibaca rutin setiap harinya sampai khatam kemudian dirapihkan bacaannya. Atau dihafalkan kemudian menjadi hafidz & hafidzah(penghapal) Qur’an. Tapi amal adalah mengamalkan isi dan makna yang terkandung dalam Al-Qur’an baik yang tersurat maupun tersirat.

Hadits ini sebenaranya juga memerintahkan kita untuk mempelajari ilmu-ilmu Al-Qur’an lainnya seperti bahasa Arab, Nahwu-Sharaf, dan Azbabun Nuzul (sebab diturunkannya Al-Qur’an) agar ummat Islam dapat memahami dengan baik dan benar ajaran agamanya. Tidak seperti yang belakangan barak, banyak orang menafsirkan ayar-ayat Qur’an sekehendaknya tanpa disertai ilmu, hanya sekedar ingin terlihat pintar atau hanya sekedar ingin menguatkan pernyataan dan atau tindakannya. Nau’dzubillah

Ipar Ustadzah Suryani Thahir

Saidah Ahmad adalah adik dari Sathiri Ahmad, suami dari Ustadzah Suryani Thahir, pemilik perguruan At-Tahiriyyah. Kalau Suryani Thahir memilih untuk berdakwah di tengah-tengah masyarakat di samping juga membangun pesantren yang berdekatan dengan Fathimiyyah (pesantren Al-Qur’an milik Saidah Ahmad), Saidah Ahmad memilih hanya mengajar di Fathimiyyah karena belajar Al-Qur’an tidak mungkin di lakukan di tengah masyatakat banyak.

Selain itu, keterbatasan fisik membuat beliau terpaksa juga membatasi kegiatannya. Pada usia remaja, beliau pernah terserempet motor ketika berboncengan dengan kakaknya, Sathiri Ahmad, sehingga kakak-beradik ini kakinya agak pendek sebelah. Namun hal ini tidak mengurangi semagat mereka melakukan dakwah Islam dengan caranya dan fokus pengajarannya masing-masing.

Gurunya  Para Qari’ Terkenal

Cara mengajar Saidah Ahmad memang agak beda dengan cara mengajar guru-guru yang lain di Fathimiyyah. Sebagai perintis Ma’had Qira’ah Al-Qur’an sejak tahun 1957, beliau sangat detail dalam mengajarkan Al-Qur’an. Mulai dari ragam tajwid dalam Al-Qur’an, makhaarijul huruf (tempat keluarnya huruf), hingga macam-macam lagu dalam qira’ah seperti Bayyati, Nahwan, Ros, Hijjaz, Jiharka, Sika, dan Shoba.

Seorang Qari’ yang cukup terkenal, Muammar ZA sangat memfavoritkan bayyati Bahkan sering kali, dalam satu bacaan beliau, lagunya hanya Bayyati. Mungkin karena ragam nada dalam bayyati yang begitu banyak. Mulai dari masuk di nada rendah, pertengahan di nada sedang, hingga ditutup dengan jawabul jawab dengan nada tinggi yang sekaligus dipungkas dengan nada rendah.

Ya, itulah keistimewaan Bayyati. Sedang lagu-lagu lainnya cenderung hanya dua ragam: masuk dengan nada rendah dan kemudian langsung pada nada tinggi, kemudian turun pelan-pelan untuk masuk pada lagu berikutnya.

Saya termasuk yang suka dengan lagu Ros. Lagu ini langsung masuk di nada sedang, tidak seperti lagu lainnya yang biasanya masuk di nada rendah. Dan dalam lagu Ros juga cukup banyak ragam variasinya meski tidak sebanyak Bayyati.

Ilmu keragaman membaca Al-Qur’an yang diajari Saidah Ahmad semakin menambahkan kesan akan indahnya pembacaan Al-Qur’an apalagi jika pembacaannya dengan penghayatan di hati. Subhanallah…

Tugas Berat dari Umi

Suatu ketika Umi (panggilan murid-murid pada Saidah Ahmad) mengatakan suatu hal yang tidak pernah aku sangka sebelumnya.

“Sam, nanti kamu baca di acara isra’ mi’raj besok ya”

Aku, yang saat itu belum berani tampil di depan orang banyak, balik bertanya, “Sama siapa?”.

“Ya kamu baca sendiri. Kenapa, ga berani ya?”

“Yaahhh…. Ditemenin dong Umi…”, pintaku merajuk

“Yaudah, nanti Umi cariin temen buat nemenin baca”

Aku benar-benar panik, kenapa harus aku? Mengapa Umi memilih aku untuk membaca di acara yang dihadiri orang banyak, padahal murid-muridnya dan santri-santrinya ada banyak sekali.

“Saidah Ahmad kenapa milihnya saya? Kan yang bacanya bagus banyak?” tanyaku pada temanku karena panik

“Kamu itu bisa menguasai seluruh nada-nada di lagu-lagu yang diajarkan, Sam. Sedangkan yang lain, meski mereka bacaannya bagus, mereka hanya menguasai nada-nada tertentu saja. Lagi pula, kalo saya perhatiin, suara kamu mirip dengan suara Umi” kata temanku menjelaskan, meski agak berlebihan.

Bukannya lupa, malah tiap hadir mengaji, selalu diingatkan kalau saya yang diminta baca. Tapi saya juga membalas dengan meminta teman untuk membaca bersama.

Iya, saya juga heran. Guru-guru yang lain yang juga mengajar di sana juga sering meminta saya mempraktikkan bacaan yang baru saja diajarkan. Bahkan sampai dipaksa-paksa sekalipun saya tetap tidak mau, saya masih takut untuk tampil sendiri.

Masa-masa belajar dengan Umi ternyata hanya berlangsung satu tahun karena Fitri mulai masuk Tsanawiyyah di siang hari. Selain tidak berani, waktu itu saya merasa garing kalau saya musti pulang-pergi sendiri mengaji di Fathimiyyah. Dengan berat hati, terpaksa aku tidak belajar lagi di Fathimiyyah.

 

Rindu Umi

Memori-memori tentang Umi tidak pernah bisa saya lupakan. Hingga suatu saat setelah belasan tahun akhirnya kerinduan saya bisa terobati juga. Beliau mengisi pembacaan Al-Qur’an pada acara maulid di Hb.Umar Assagaf, anak dari Hb.Abdurrahman Assagaf, di Bukit Duri.

Secara fisik, penampilan beliau tidak jauh berbeda dengan masa-masa ketika saya masih mengaji di sana. Tapi, ada satu yang berbeda, kursi roda yang tidak lepas darinya. Di balik kursi roda itu, Umi masih bisa menyajikan nada-nada bacaan Qur’an yang persis sama dengan yang dahulu beliau ajarkan pada saya. Usia tidak merubah kualitas suara beliau, bahkan menjadi jauh lebih indah. Subhanallah, aku tertegun menyaksikan dan mendengarkan beliau membacakan ayat-ayat Qur’an dengan beragam lagu tanpa menggunakan Al-Qur’an.

Umi, kini tugasmu sudah selesai, dan kau telah memberikan ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan kami. Ilmu yang menjadi amal jariahmu bagi kemaslahatan ummat. Amiiin ya rabbal ‘aalamiin.

Apabila manusia telah mati maka terputuslah dari semua alamalnya kecuali tiga perkara: 1.Sahadaqah Jariyah; 2.Ilmu yang bermanfaat; 3.Anak shaleh yang mendoakannya (HR.Bukhari)

Iklan

Tentang syamhais

Instruktur TIK Kemenaker RI; Psychoanalys
Pos ini dipublikasikan di Agama dan Ummatnya, Interaksi dan Komunikasi, Tokoh Inspiratif dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kenangan Tentang Ustadzah Saidah Ahmad

  1. Ping balik: Singa Podium Itu telah Pergi | Syamhais

  2. Ping balik: Langgam Jawa, Siapakah Gurunya? | Syamhais

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s