Singa Podium Itu Telah Pergi

Sabtu, 5 September 2015, kembali datang berita duka. Tepat pukul 03.30, seorang singa podium, Hj.Suryani Thahir, wafat. Jenazah dimakamkan di Cimuning, setelah sebelumnya dimandikan di Cakung. Kemudian dishalatkan di At-Tahiriyyah (Kp. Melayu), tempat beliau biasa syiar, dengan imam Hb.Ali Assagaf.

Hj.Suryani Thahir, pemilik yayasan At-Thahiriyyah. Yayasan yang sudah lama dirintis keluarga mereka untuk dakwah. Yayasan yang awalnya hanya pondok pesantren dan sekolah Islam, kemudian berkembang menjadi pengajian besar di setiap hari Sabtu. Tidak berhenti di situ, dakwah juga berkembang dengan adanya Radio Atthahiriyyah.

“Dahulu ketika Ibu (panggilan Hj.Suryani Thahir) masih kecil, beliau belajar dengan Ustadzah Hikmah. Kemudian Ibu sekolah ke Kairo. Pulang, malah ‘Mah (panggilan Ustadzah Hikmah) yang belajar dengan Ibu”, cerita salah seorang kerabat.

Ibu dan ‘Mah memang kawan dekat. Sering kali, saking banyaknya permintaan mengisi majelis, Ibu sering meminta ‘Mah untuk menggantikan.

Banyak orang yang mengeluh karena durasi ceramah Ibu hanya sepuluh menit, padahal paling ditunggu-tunggu. “Wah, itu karena gak paham Ibu. Kalo nentuin waktu jangan dari kita, tapi dari Ibu. Minta aja yang paling akhir, bakal bisa sampai 30 menit. Kalo dari kita, kita kan ga tau jadwal Ibu, otomatis Ibu jadi terburu-buru karena saking banyaknya permintaan ceramah”, kembali kerabat tersebut menjelaskan.

Melewati arah Kp. Melayu, dari pasar gembrong jalanan sudah macet. Jalan layang yang biasanya lengang menjadi padat. Banyak orang berkopiah dan bergamis di jalan-jalan sekitar Kp.Melayu. para jamaah yang biasa menghadiri majelisnya tidak mau absen menshalati di majelis beliau biasa rutin mengajar.

********************************************************************

Kematiannya tepat setelah 6 bulan ditinggalkan adik iparnya, pemilik pondok pesatren Al-Qur’an, Fathimiyyah di Jl.Bukit Duri Tanjakan, Jakarta Selatan, yaitu Hj. Saidah Ahmad. Saudara yang dipertemukan ketika dewasa dengan jalan dakwahnya masing-masing.

Terbayang deretan orang-orang shaleh yang telah dipanggil-Nya. Ustadzah Hikmah telah lebih dahulu meninggalkan keluarga dan para jamaahnya para tahun 2012. Lalu kemudian Hb.Munzir Al-Musawwa, pendiri Majelis Rasulullah, Pancoran, pada tahun 2013.  Tahun sebelumnya, 2007 kita juga telah ditinggalkan ulama yang terkenal dengan sifat wara’-nya, yaitu Hb.Abd Rahman  Assagaf (Bukit Duri).

Saya bukan orang yang dekat dengan salah satu dari mereka. Tapi begitu mendengar kabar kematian mereka, saya tak kuasa membendung air mata dan menahan isak tangis. Sedih, di tengah kondisi umat yang kian memprihatinkan, satu-persatu para kekasihnya pergi menghadap-Nya.

Kondisi umat yang kian carut-marut, kian tak mau mendengarkan nasihat dan bimbingan. Kian mudah membid’ahkan dan mengkafirkan amalan-amalan yang dilakukan saudaranya sendiri. Kian mudah menyalahkan saudaranya sendiri hanya karena ikut orang yang menjadi tokoh agama padahal tidak mengkaji agama secara mendalam.

Wajah Islam yang dahulu damai, kini menjadi “malaikat Atid” yang senantiasa mencatat keburukan-keburukan saudaranya sendiri. Umat yang senang memakan bangkai saudaranya sendiri karena hobinya menggunjingkan -bahkan secara terang-terangan-  hal-hal yang dianggap sebagai kesalahan. Umat yang mudah melihat kesalahan orang lain tapi sulit melihat kesalahan diri sendiri. Umat yang kian merasa ilmunya hebat padahal masih di sekitar kulitnya. Umat yang tidak pernah tahu belajar kitab apa, hanya bermodal buku atau internet sudah merasa paling paham agama.

Tapi di tengah kondisi umat yang sudah rusak, masih ada orang-orang yang butuh bimbingan orang-orang shaleh. Orang-orang shaleh yang mengedepankan akhlak dalam berdakwah. Orang-orang shaleh yang jauh dari hiruk pikuk ketenaran. Dan saya salah satu dari yang masih butuh bimbingan mereka.

Bimbingan untuk terus mengingatkan akan aqidah dan ajaran-ajaran Islam. Bimbingan untuk terus mengembalikan umat ke jalan-Nya di tengah hiruk-pikuk perpecahan umat hanya karena khilafiyah. Bimbingan agar tidak terbawa arus kehidupan dunia yang kian hari kian terang-terangan dan bahkan bangga akan dosa-dosa dan kesewenang-wenangan.

Bimbingan untuk terus bersabar dan bertawakkal dalam menjalankan kehidupan beragama dan berukhuwah. Bimbingan untuk terus menyadarkan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sebentar, maka patutlah mengejar yang abadi, yaitu akhirat. Bimbingan untuk hidup bersaudara dan saling berkasih-sayang, bukan saling bersaingan dan berlomba-lomba dalam segala pencapaian, baik materi duniawi maupun ibadah.

Bimbingan untuk menjadi umat yang senantiasa beribadah, tapi menyembunyikannya, bukan memamerkannya apalagi membanggakannya. Seolah hanya dia yang sudah melakukan ibadah tersebut padahal bagi banyak orang tergolong hal yang biasa saja. Bimbingan untuk terus sadar bahwa tanpa kekuatan-Nya dan kehendak-Nya, kita tidak akan mampu melakukan apapun, termasuk beribadah pada-Nya.

**************************************************************

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta mencabutnya dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama. Kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh. Kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [H.R Bukhari -Muslim]

Dalam Kitab Tanqih Al-Qaul Imam Al-Hafizh Jalaluddin bin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi menuliskan dalam kitabnya sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sbb:

مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِ

”Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik”

Iklan

Tentang syamhais

Instruktur TIK Kemenaker RI; Psychoanalys
Pos ini dipublikasikan di Tokoh Inspiratif dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s