Cokelat Band: Budayakan Senyum dan Bersih !!!

COKELAT BAND

Cokelat Band saat Mengisi Sarasehan @taudariblogger di Gedung PMI Kramat, Jakarta Pusat

Senyum, dahulu Indonesia dikenal sebagai negara yang ramah. Tapi kini keramahan itu hilang. Dalam hidup bertetangga saja kita sulit untuk saling bertegur sapa dan tersenyum satu sama lain. Padahal, tanpa keramahan,  siapapun akan sulit untuk betah.

Saya sering tersenyum dengan seseorang yang baru pertama kali bertemu. Biasanya sesama pemakai jilbab memang sering melemparkan senyumannya meski kami baru bertemu pertama kali. Atau, meski ia tidak memakai jilbab, sering kali ia sudah menunjukkan wajah ramahnya pada saya. Dan seketika setelah itu, selalu saja teman saya yang kebetulan sedang menyertai saya bertanya, “kamu kenal dia?”, atau, “teman kamu ya?”

Mungkin mereka heran. Saya pun sebaliknya, mengapa hal yang justru mendatangkan kebaikan malah dipertanyakan? Apa karena sudah sangat lazim untuk bersikap arogan, mementingkan diri sendiri, serta saling curiga satu sama lain sehingga keramahan dan senyuman menjadi hal yang mahal?

Kita mungkin bisa ramah hanya di tempat-tempat tertentu atau pada orang-orang tertentu yang sudah kita kenal. Di rumah, hidup bertetangga tidak seramah dulu. Hanya satu-dua tetangga yang masih bisa tersenyum saat bertemu. Itu pun karena kita sudah mengenal mereka lama. Bahkan terhadap orang tua dan saudara sendiri pun keramahan dan senyuman itu sudah mulai luntur.

Ketika masih bekerja di perusahaan multinasional, budaya ramah-tamah ini sangatlah jauh. Kita terbiasa bicara langsung pada pokok pembicaraan, tanpa basa-basi. Mungkin karena saking tingginya beban kerja sampai penuh tekanan. Bicara salah sedikit langsung marah. Beban kerja sangat tinggi, bahkan seringkali sangat tidak manusiawi.

Al_l1G_v3x7GhTlYHyBBNTG2JUvYg2hc_dCuZFxT4uHd

Yuk kita Belajar Senyum dan Asyik dari para Blogger ini …. 🙂

Kini, setelah pindah di pemerintahan, hal itu tidak terjadi sama sekali. Budaya ramah dan penuh senyuman di pemerintahan tetap terjaga. Apalagi pemerintahan hanya diisi oleh warga negara Indonesia. Ternyata senyum dan keramahan tetap milik Inonesia. Tapi nyatanya sudah banyak yang terkontaminasi virus negatif gaya hidup serba individualis dan mau menang sendiri.

Saya yakin, meski individualis, di negeri asalnya sana, para pendatang tidak punya sikap mau enak sendiri. Mereka individualis tapi tetap menjaga hak privasi orang sekitarnya. Hal itu terbukti dengan mudahnya para tetangga dituntut hukum hanya karena suka menyalakan musik keras-keras, mengeluarkan bau menyengat dari dalam rumah, serta hal lainnya yang meurut mereka mengganggu.

Tapi di sini, kita masih saja berkutat dengan masalah sandang, papan, dan pangan yang kian melangit. Sehingga sikap individualis yang telah diserap ditambah dengan sikap mau enak sendiri dan tak peduli akan hak orang sekitarnya.

Adalah Band Cokelat, sebagai duta Maritim dari Kemenko Maritim, melakukan kampanye budaya senyum dan bersih. Cokelat Band sudah lama mengusung nilai-nilai nasionalisme. Terbukti, salah satu lagu mereka, Bendera, bahkan sering dijadikan soundtrack berbagai acara kenegaraan.

Objek wisata Indonesia kini sudah mulai dikenal dan digandrungi para pelancong. Sayangnya, semakin dikunjungi justru semakin kotor dan kurang terawat. Masih teringat bagaimana anak-anak alay merusak Taman Amaryllis di Gunung Kidul, Kebun Raya Barurraden di Jawa Tengah, jembatan gantung di Langsa Baroe-Aceh, dan lain-lain.

Mereka yang mengaku pecinta alam justru berani buang sampah sembarangan di sana dengan alasan sampah yang mereka buang mudah terurai. Padahal, bukan masalah terurai atau tidaknnya, tapi masalah kotor dan joroknya. Kotor dan jorok itu menjadi perlambang pribadi bangsa. Duhai anak muda, inikah kepribadianmu? Kalau tidak mampu membuat, janganlah kau rusak. Bagaimana objek wisata di negeri ini akan dibanjiri wisatawan asing kalau warga negaranya malah senang merusaknya.

Semoga,  apa yang diusung @cokelatband  pada Sarasehan bersama @taudariblogger bersama Kemenko Maritim pada 10 Januari 2016 lalu di gedung PMI Kramat jakarta Pusat, dapat segera dituntaskan. Cokelat Band juga mengundang berbagai komunitas untuk aktif dalam kegiatan membudayakan senyum dan bersih.

 

 

Iklan

Tentang syamhais

Instruktur TIK Kemenaker RI; Psychoanalys
Pos ini dipublikasikan di Interaksi dan Komunikasi, Tak Berkategori, Urban dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Cokelat Band: Budayakan Senyum dan Bersih !!!

  1. Ping balik: IDP (Indonesia Darurat Plagiat) | Syamhais

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s