Amankah Data Anda di Internet?

Teknologi internet telah berkembang dengan pesat. Awalnya internet digunakan untuk mengakses informasi secara searah terhadap hal-hal yang kita inginkan. Internet telah memudahkan akses informasi di berbagai bidang. Mulai dari perdagangan, jasa, pendidikan, pemerintahan dan militer, keuangan dan perbankan, otomotif, konsultan, manufaktur, properti, kesehatan, hiburan, perhotelan, restoran dan kuliner, hingga perkebunan dan pertanian.

Kini, internet telah menjadi sarana komunikasi dan sosialisasi dua arah secara realtime. Internet telah berevolusi menjadi alat komunikasi personal pada orang atau pihak tertentu. Internet telah mengubah orientasi masyarakat dalam bersosialisasi.

Kebutuhan akan sosialisasi dan eksistensi diri menjadikan internet juga sarana menceritakan setiap kejadian yang kita alami. Tak jarang, meski sudah bertemu di dunia nyata, masih banyak yang nyaman dengan gadget yang digunakannya. Sifat privasi internet membuat siapapun merasa lebih nyaman berinteraksi melalui gadget yang dimilikinya.

Maraknya Hoax di Internet

Perubahan pola sosialisasi ini menjadikan masyarakat sangat loyal membagikan berbagai informasi di internet. Sayangnya, banyak hoax (berita bohong) yang menyebar melalui internet. Mereka yang malas meneliti dahulu kebenarannya, langsung saja menyebarkan pada yang lainnya. Mulai dari media-media kecil hingga media berskala nasional ternyata juga pernah menyebarkan hoax.

Tentunya kita masih ingat bagaimana tribunnews.com menyebarkan hoax tentang mole people. Setelah ditelisik, ternyata itu diambil dari artikel sebuah film science-fiction, yang dibuat pada tahun 1956. Versi yang sama telah didahului di berbagai blog sampah seperti Eymanway.blogspot pada 2011 dan Kawanmoe.blogspot pada 2012. Media sebesar tribunnews.com ternyata juga melakukan kesalahan fatal dalam penyampaian informasi. [1]

Tersebarnya Data Pribadi

Masyarakat begitu mudah percaya dengan internet sehingga mereka tak segan mengunggah data-data pribadinya. Begitu banyak data pribadi yang tersebar melalui situs-situs media sosial seperti facebook dan twitter. Situs media sosial lainnya seperti instagram, path, linkedin, atau aplikasi seperti whatsapp dan balckberry messenger juga  berpengaruh dalam penyebaran informasi pribadi, tapi kuantitasnya tidak sebanyak dua situs media sosial tersebut.

Tidak sedikit yang mudah mempercayai situs atau pihak-pihak tertentu yang meminta data pribadi. Mulai dari informasi umum seperti alamat rumah, umur, jenis kelamin, hingga password email. Tanpa disadari, kita pun telah masuk pada ranah keterbukaan ruang-ruang privasi.

Mungkin kesannya tidak ada masalah dengan email yang passwordnya diketahui orang. Mulai dari teman, saudara, atau orang terdekat kita hingga kiriman email yang meminta mereset password. Padahal, dari sinilah jebakan phising dimulai, terutama yang berhubungan dengan data perbankan.

Beberapa situs yang meminta data-data dan file-file pribadi tersebut sebenarnya telah memberikan pilihan pada kita apakah data tersebut mau diperlihatkan ke seluruh orang, hanya yang ada di daftar pertemanan, atau hanya kita saja yang berhak mengetahuinya. Pilihan-pilihan ini telah membantu kita membatasi akses ke ruang-ruang privasi. Kenyataannya, selain menjadikan data-datanya mudah terakses siapapun, banyak yang justru dengan sengaja menyebarkan informasi pribadinya melalui status di media sosial.

Banyak yang menyebarkan pin BBM dan nomor handphone di status facebook atau twitter. Banyak juga yang memberitahu lokasi keberadaannya melalui status di facebook. Padahal, dengan mengetahui lokasi keberadaan seseorang secara rutin, seseorang bisa mengetahui kebiasaannya lalu kemudian mencari celah untuk melancarkan aksi kejahatannya.

Hati-hati Memberikan Data di Internet

Saat kita mengaktifkan GPS, tanpa sadar, kita juga sedang memberitahukan keberadaan kita pada siapapun.  Contoh paling simpel adalah seorang anak yang menulis status di media sosial tentang kesendiriannya di rumah dengan memberitahukan lokasi rumahnya di status tersebut. Atau menuliskan kebiasaannya beraktivitas di lokasi tertentu seperti sekolah. Biasanya dalam sataus di media sosal jika sudah menyebut nama sekolah pasti disertai alamat jelasnya.

Kebiasaan ini memudahkan para pelaku phedofil melancarkan aktivitasnya karena korban incaran sudah dengan suka rela di media sosial menginformasikan kegiatan sehari-harinya. Hal inilah yang terjadi pada kasus dokter Gunawan[2]. Alih-alih ingin memeriksa kesehatan anak, ia menelanjangi dan merekam anak yang sedang chating via skype dengannya.

Baru-baru ini kita juga dikagetkan dengan akun @jualbayimurah di instagram[3]. Akun ini membuat masyarakat tersadar akan banyaknya foto bayi yang mereka curi melalui media sosial seperti facebook. Mereka pun bisa dengan mudah menemukan bayi tersebut ketika orang-tuanya mengunggah fotonya sambil memberitahukan lokasi keberadaannya.

Edward Snowden, mantan badan intelijen Amerika Serikat, National Security Agency (NSA), menguak tentang kebocoran data dan yang diakses pengguna internet oleh UC Browser yang kemudian dikirimkan ke Tiongkok. Selain data-data pribadi, UC Browser merekam setiap klik pada alamat website. Pihak UC Browser  menanggapi hal ini dengan meminta pengguna meng-update seri terbaru dari UC Browser karena adanya kebocoran di seri sebelumnya.

Saat pengguna masuk ke aplikasi itu, mereka harus mencantumkan, antara lain, alamat, nomor telepon seluler, dan nomor kartu kredit. Data yang tercatat kemudian dan tidak kalah penting adalah data transaksi, data rute perjalanan, kebiasaan pengguna, pola komunikasi, dan data tentang aktivitas pengguna di berbagai aplikasi ataupun laman internet.

Batasi Akses Data

Lalu, bagaimana menyikapinya? Pertama, batasi akses terhadap data yang diunggah di internet. Jika itu ranah pribadi, jadikan itu sebagai “private”. Jika itu berkenaan dengan teman dan kolega, jadikan hanya diketahui oleh mereka yang ada di daftar pertemanan. Dan jika itu bersifat umum, maka berikanlah hak akses publik.

Kedua, dalam menerima permintaan pertemanan di media sosial, lihat jumlah mutual friend-nya dan siapa saja yang masuk dalam mutual friend dengannya. Jika mutual friend-nya adalah teman yang kita kenal baik bisa kita tanyakan langsung pada teman kita.

Selain itu lihat juga profilnya, jangan mudah terpana dengan profil yang penuh polesan tapi banyak keganjilan. Lihatlah status- status nya di media sosial, apakah suka menyebar keburukan orang meski tidak menyebut nama? Kalau iya, kemungkinan Anda akan menjadi korban cyberbullying berikutnya.

Mayoritas aplikasi perangkat lunak yang kita gunakan ternyata kurang aman, dan workshop ini memberikan alternatif pengganti yang lebih aman. Untuk aplikasi chat bisa gunakan “telegram”sebagai pengganti aplikasi chat yang sudah biasa kita pakai seperti “whatsapp” atau “blackberry messenger”. Untuk aplikasi video streaming, ternyata “Jitsi” lebih aman ketimbang “Skype”[4].

Minimnya Jaminan Hak Privasi

Hingga kini, jaminan hak privasi data di internet belum dijamin seluruhnya, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 pasal 29tentang Informasi dan Transaksi Elektronik hanya mencantumkan tentang terkait pornografi, pencurian foto dan data di internet, dan hak cipta.

Kepala Subdirektorat Teknologi dan Infrastruktur e-Business pada Direktorat e-Business Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Noor Iza mengatakan, perlindungan data pribadi belum diatur dalam undang-undang. Akan tetapi, pengaturannya mulai dicantumkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik[5].

Tapi jaminan kerahasiaannya data yang berhubungan dengan perbankan belum ada dalam undang-undang. Substansi undang-undang itu belum menyentuh keamanan data dan privasi secara menyeluruh. Permasalahan tersebut ditambah lagi dengan lemahnya penegakan hukum atas kasus-kasus kriminal terkait penyalahgunaan data pelanggan[6].

[1] http://www.kaskus.co.id/thread/5586265b529a4560178b4568/?ref=forumlanding&med=hot_thread

[2] http://news.liputan6.com/read/2038709/tersangka-kasus-pedofil-surabaya-simpan-puluhan-ribu-foto-korban

[3] http://citizen6.liputan6.com/read/2255863/heboh-akun-instagram-jual-bayi-murah-di-jakarta

[4] Diskusi Publik “Melindungi Hak Privasi Setiap Warga dari Praktik Penyadapan” Sabtu, 26 Mei 2015 di Gedung Cyber, Kuningan.

[5] http://print.kompas.com/baca/2015/06/17/Jaminan-Privasi-Sangat-Lemah

[6] Ruby Alamsyah, Pengamat Teknologi Informasi dan Komunikasi

Iklan

Tentang syamhais

Instruktur TIK Kemenaker RI; Psychoanalys
Pos ini dipublikasikan di Interaksi dan Komunikasi, internet dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s