IDP (Indonesia Darurat Plagiat)

Suatu hari teman saya yang di grup dagangan menunjukkan gambar sepatu dagangannya. Kebetulan yang diposting adalah sepatu bermerek yang cukup digemari. Ia menawarkan dengan harga yang cukup menggiurkan untuk ukuran sepatu merk itu. Spontan banyak teman dalam grup yang langsung bertanya, “itu asli ngga?”. Lama tidak ada jawaban, sampai akhirnya ia menjelaskan bahwa sepatu yang dijualnya adalah KW super. Dan grup pun mendadak sepi…..

Saya bersyukur punya teman yang masih peduli dengan keaslian barang. Menggunakan barang KW bagi kami adalah hal yang cukup memalukan. Meskipun itu KW super, ya tetap saja bukan barang asli, alias PALSU !!!

Eh kamu tau ga sih, kalo sepatu KW yang kamu posting itu yang aslinya diproduksi di Indonesia dengan upah buruh yang begitu rendah dan jam kerja tinggi? Hehehe…. maksud saya, yang aslinya kan diproduksi di Indonesia, kenapa juga beli yang palsu. Kalo soal upah buruh nanti ya, nanti aja. Bahasannya bisa panjang kali lebar kali tinggi soalnyah.

*************************

Lain waktu, seorang teman menunjukkan gambar sebuah jam yang diposting di instagram. Dia sangat ingin memiliki jam tersebut.

“Murah nih, cuma segini”, katanya.

“Asli?”, tanya saya.

“Ya ngga lah”, katanya.

“Trus ngapain beli?”, tanya saya lagi

“Abis jamnya keren”

“Yaudah, silakan aja beli. Tapi kalo saya sih ga mau. Takut ketemu orang yang ngerti barang, bisa malu saya”

Di kemudian hari, kami menemukan langsung jam yang diincarnya. Penjualnya bilang, kalo yang asli harganya bisa sampai 30 juta. Yang KW super 12 juta, dan yang KW1 4 juta. Issshhh….. barang palsu qo mahal…..

Penjualnya juga bilang, kalo yang asli otomatis. Kalo rusak susah benerinnya. Kalo yang KW pake batere, lebih gampang benerinnya. Mungkin ini yang lebih narik orang untuk beli yang KW.

Beberapa hari kemudian, saya tanya lagi, “Jadi mau beli jam itu?”. “Ngga deh. Kalo ketemu orang yang ngerti barang bisa malu”, katanya. Alhamdulillah…..

Buat saya sendiri, beli barang KW bukan sekedar malu sama yang ngerti mana barang asli dan mana barang KW, tapi juga cermin kepribadian. Berani pake barang KW (palsu) hanya supaya terlihat keren. Berarti sehari-hari juga senang bersikap palsu hanya karena ingin terlihat baik dan menarik di mata orang lain. Bahasa kerennya itu tuh, PENCITRAAN. Iya, citra, tapi citra yang dibuat palsu…… :D. Hissss…… ini bukannya mayoritas orang kita yah.

Kita berhak membuat pencitraan, berhak banget. Asalkan citra yang dibuat itu asli, bukan dibuat-buat alias palsu. Bukan sekedar ingin dilihat keren tapi ternyata tipuan. Dan penonton pun kecewa L. Dengan menjadi diri kita sendiri, apapun yang kita miliki, itu akan terlihat jauh lebih keren ketimbang menipu dengan tampilan luar dan awal yang keren tapi ternyata mengecewakan.

********************

Barang KW Dijual di Tempat Resmi

Di Jakarta, barang-barang KW ini biasanya hanya dijumpai di pasar-pasar tertentu dan toko-toko kecil saja. Tapi saat saya berkunjung ke Bandung, beberapa pusat perbelanjaan yang cukup berkelas ternyata juga menjual barang-barang KW.

Jujur, saya suka heran dengan teman-teman saya yang berasal dari daerah (umumnya Jawa). Mereka memakai barang-barang seperti jam dan sepatu yang saya sendiri sampai berpikir-pikir dahulu kalau mau beli. Iyah, saya sampai takjub melihatnya. Kebetulan saya ini bukan orang yang ngerti mana jam asli mana jam KW. Tapi untuk sepatu, akhirnya kepergok juga tuh kalo itu palsu. Dari mana ketauan palsu? Dari mana lagi kalo bukan dari jahitan, kerapihan, dan harga?

Orang daerah dan menengah ke bawah tidak terlalu peduli apakah barang yang mereka beli asli apa palsu. Bagi mereka yang penting murah, terlihat bermerk, dan modelnya sesuai. Bahkan untuk sepatu jenis yang sama, dengan harga yang menurut saya sudah cukup murah (90 ribu rupiah), masih saja ada yang bilang kalau itu harganya mahal. Ternyata harga itu relatif, tergantung kemampuan finansial masing-masing. Juga tergantung kelumrahan orang sekitar dalam mengenal harga.

Saya cukup miris ketika mereka mengeluhi harga barang palsu yang mereka sangka asli. Mungkin mereka hanya mengeluhi harganya. Namun sangkaan bahwa itu barang asli karena dijual di tempat resmi itulah yang membuat saya miris.

 

Fenomena Barang KW

Barang KW alias palsu marak beredar. Entah sejak kapan awal mula adanya barang KW ini. Dan untuk menaikkan gengsi, ditambah label KW Super. Katanya KW Super ini hampir mirip dengan yang asli. Dan itu adalah gengsi yang salah. Itu adalah bukti rasa tidak percaya diri dengan apa yang dimiliki. Tidak percaya diri menggunakan barang yang tidak bermerk meskipun asli.

Gengsi yang benar adalah berani memakai barang yang tidak bermerk karena itu asli. Gengsi yang benar adalah berani berkarya dan membuat label sendiri karyanya, bukan menjiplak karya orang/bangsa lain.

Sikap ini berefek pada keseharian yang cenderung suka menebar sikap kepalsuan demi citra positif, baik, dan bergengsi. Padahal sebagai manusia, kita pastinya diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan. Padahal dengan citra tersebut, kepribadian asli kita hilang. Padahal ada keunikan pada tiap pribadi jika mau tampil apa adanya.

Orang-orang seperti ini cenderung merasa rendah diri dan orang lain dianggap lebih baik dalam hal apapun darinya. Kepribadian inilah yang telah lama tertanam dalam diri bangsa Indonesia. Merasa rendah di hadapan bangsa lain karena merasa tidak mampu melakukan hal yang sama dengan bangsa lain.

 

Karya Anak Bangsa yang Mendunia

Tapi itu hanya rasa. Nyatanya,  sudah berapa banyak anak bangsa ini yang berhasil berkarya di negeri orang? Mulai dari Habibie, Khoirul Anwar, Ricky Elson, Sri Mulyani, Nelson Tansu, Muhammad Arief Budiman dan lain-lain. Atau, coba lihat film Upin-Ipin, yang ternyata animatornya adalah anak musisi kenamaan Indonesia Ikang Fauzi, Marsha Chikita Fawzi. Kita juga mengenal Tex Saverio, desainer asal Indonesia yang karya-karyanya telah banyak dipakai oleh mulai artis dalam negeri yaitu Anggun C. Sasmi hingga artis kelas dunia seperti Lady Gaga, Jennifer Lawrence, dan Kim Kardashian.

Sayangnya, karya-karya mereka belum mendapat penghargaan yang tepat di negeri sendiri. Orang-orang hebat seperti mereka karya-karyanya seperti jauh panggang dari api. Tipikal orang Indonesia umumnya “gagal move on” dari kondisi asalnya. Perlu penyesuaian yang amat sangat panjang menerima perubahan-perubahan yang mereka tawarkan.

Kita tau banyak produk anak bangsa yang kualitasnya mendunia. Sebutlah batik, tenun, berbagai ukir kayu dan produk kayu jati. Berbagai macam perhiasan mulai dari mutiara dari Indonesia Timur hingga yang belakangan sedang in meski sekarang mulai agak redup lagi adalah batu-batuan. Bahkan pernah hasil kerajianan orang Bali justru diakui orang Amerika Serikat sebagai hasil karyanya.

Butuh dukungan penuh pemerintah untuk mengawal karya anak bangsa agar tidak sekedar dikenal di luar negeri lalu mereka akui sebagai karya mereka. Konon kabarnya Amerika Serikat bisa mendadak miskin kalo kontraknya dengan Freeport tidak diperpanjang.

Plagiat Lambang PMI di Berbagai Lembaga

Sepertinya penyakit plagiat di Indonesia sudah sedemikian kronis. Saat saya melihat lambang PMI di berbagai rumah sakit, saya pikir itu bukti adanya kerjasama rumah sakit itu dengan PMI. Ternyata saya salah total. Banyak rumah sakit yang mencatut lambang PMI dan memodifikasinya lalu kemudian dijadikan simbol rumah sakit tersebut. Padahal lambang adalah tanda pengenal, pelindung, dan pembeda.

Penggunaantanda-tanda yang mungkin bisa membingungkan dengan lambang palang merah atau bulan sabit merah dengan warna dan model yang mirip disebut peniruan.

Salah satu penggunaan lambang PMI yang tidak tepat adalah produk susu darah. Produk ini bukan dari PMI, tapi berhubung punya lambang mirip PMI, orang bisa saja menganggap ini adalah bagian dari PMI.

Picture1

Lambang resmi PMI

logo-rumah-sakit-bakti-husada

Contoh Peniruan Lambang PMI

kepalangmerahan-21-638

contoh Tiruan Lambang PMI

 

 

 

Masalahnya bukan sekadar plagiatnya, tapi akibat dari pembiaran peniruan lambang tersebut membuat Indonesia berisiko terkena sanksi dicabut keanggotaannya dari Geneva karena tidak konsisten menggunakan lambang pembeda. Risiko dari dicabut keanggotaan tersebut adalah dunia Internasional tidak memiliki kewajiban membantu Indonesia dalam hal kemanusiaan.

Untitled-22

Tiruan lambang PMI pada alat P3K

Oleh karena itu RUU lambang sudah sangat mendesak untuk segera disahkan. Tujuannya agar tidap-tiap lambang yang ada tidak ditiru. RUU lambang sudah masuk ke DPR sejak 2006, namun hingga kini belum ada tindak lanjutnya. Dalam hal ini kita boleh malu pada Timor Leste. Negara bayi tersebut sudah punya RUU lambang sejak awal kemerdekaannya.

 

Wassalam

@Cham_Syamsiah

 

 

Iklan

Tentang syamhais

Instruktur TIK Kemenaker RI; Psychoanalys
Pos ini dipublikasikan di Interaksi dan Komunikasi, Nasionalisme, Tak Berkategori, Urban dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke IDP (Indonesia Darurat Plagiat)

  1. hikmahua berkata:

    Fenomena pakai logo PMI itu seperti fenomena pakai nama masjid dan majelis taklim tertentu untuk cari uang. Ya begitulah Indonesia. Demi uang apa saja diperdagangkan, termasuk agama dan kemanusiaan. Kalau masalah produk KW, parfum juga begitu. Yang di toko online banyak yang palsu. Di Indonesia rata2 parfum palsu KW3. Rendah sekali ya kualitasnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s