Band Terkenal Gunakan Produk Indonesia. Kamu?

KONCER-2

Sumber:harkonas.id

Awal 2016 adalah momentum dibukanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), yaitu era perdagangan bebas di kawasan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Era persaingan bebas di kawasan ASEAN ini bukan hanya menuntut peningkatan daya saing para tenaga kerja Indonesia, tapi juga produk yang dihasilkan. Tentunya akan banyak produk luar negeri dengan jenis yang sama memiliki harga yang lebih murah ketimbang produk dalam negeri. Padahal belum tentu produk luar negeri lebih bagus dari produk dalam negeri.

Salah satu contohnya adalah produk kosmetik. Sebagai seorang wanita, saya sebelumnya sering bergonta-ganti kosmetik bermerk luar negeri. Tapi hasilnya tetap saja wajah saya rutin jerawatan setiap bulannya. Hingga akhirnya saya mencoba salah satu produk kosmetik Indonesia. Sampai sekarang, wajah saya sudah bersih dari jerawat.

Kulit wanita Indonesia berbeda dengan kulit wanita Eropa atau Amerika. Kulit wajah wanita Indonesia lebih sensitif dan rentan terhadap faktor luar[1]. Kosmetik Indonesia disesuaikan dengan tekstur wajah orang Indonesia yang terbiasa terkena sinar matahari. Kosmetik luar negeri menyesuaikan dengan jenis kulit negeri kosmetik tersebut dijual.

Di sisi lain, kecenderungan menggunakan produk luar negeri lebih tinggi ketimbang produk dalam negeri. Karenanya produk-produk luar negeri sering ditiru, sehingga munculah barang-barang KW atau KW super[2]. Meskipun KW super itu katanya mendekati aslinya, tetap saja itu barang palsu.

Jackline, vokalis Cokelat Band bercerita bahwa ia sering menemukan tas-tas produk Usaha Kecil Menengah (UKM) yang berkualitas namun justru ditempeli label merk luar negeri. “Sayang, masih banyak produsen Indonesia yang belum percaya diri menggunakan merk-nya sendiri, padahal tasnya berkualitas” ucapnya dalam Sarasehan Tau Dari Blogger (TDB) Minggu, 10 Januari 2016 di Gedung PMI, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat. Tidak seperti kebanyakan orang yang bangga dengan barang tiruan, Jackline punya prinsip. “Saya lebih baik jualan tas produk Cibaduyut ketimbang jualan tas KW”, tambah pemilih nama lengkap Jackline Rossy Natalia Mboeik.

COKELAT BAND

Cokelat Band Dalam Sarasehan Tau Dari Blogger (TDB) Minggu, 10 Januari 2016 di Gedung PMI Kramat, Jakarta Pusat

 

Untuk itu, Pemerintah bersama masyarakat (swasta) akan terus berusaha meningkatkan daya saing produk dalam negeri, yaitu melalui pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Kepada UKM akan diberikan bantuan berupa bimbingan dan pelatihan, mulai dari pemilihan bahan baku dan penolong, proses produksi, hingga pengemasan sehingga mampu menghasilkan produk yang berkualitas dan aman bagi masyarakat[3].

Pemberdayaan UKM sangatlah penting karena di saat krisis, sektor UKM lah yang paling kuat menghadapi gelombang krisis ekonomi global. Pemberdayaan UKM dapat memperkuat dasar kehidupan perekonomian rakyat Indonesia[4]. Pemberdayaan UKM dilakukan agar dapat bersaing dengan produk-produk asing yang kian membanjiri sentra industri dan manufaktur di Indonesia, mengingat UKM adalah sektor ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia[5].

Berdasar data BPS, pada 2011 UKM menyumbang 61,9 persen pemasukan Produk Domestik Bruto (PDB) melalui pembayaran pajak. Sektor usaha mikro menyumbang 36,28 persen PDB, sektor usaha kecil 10,9 persen, dan sektor usaha menengah 14,7 persen melalui pembayaran pajak. Sementara itu, sektor usaha besar hanya menyumbang 38,1 persen PDB melalui pembayaran pajak.

Ditambahkan oleh Edwin yang juga personil Cokelat, bahwa drum yang digunakan Cokelat Band bermerk AHAY adalah buatan Indonesia. “Drum ini di Eropa bersaing dengan yang harganya mencapai ratusan juta”, jelasnya menceritakan betapa sebenarnya banyak barang Indonesia yang kualitasnya lebih baik dari barang luar negeri.

Beberapa negera maju bahkan berani meniru produk-produk Indonesia. Sebutlah batik yang ditiru China. Dalam hal ini, masyarakat justru banyak yang membeli batik China karna harganya yang lebih murah[6]. Bahkan perak bali sempat dipatenkan Amerika Serikat pada 2008 lalu [7].

Perdagangan melalui jaringan internet (online) atau dikenal dengan E-commerce sudah sangat marak. Banyak yang diuntungkan dengan sistem perdangan online ini. Pembeli mendapatkan harga yang lebih murah. Penjual tidak perlu menyewa tempat untuk melakukan transaksi jual-belinya. Sayangnya, banyak produk KW yang dijual, terutama melalui situs instagram. 

Perkembangan UKM 2005-2012

Tabel Perkembangan UKM dari 2008-2012. Sumber: bps.go.id

Pemerintah juga telah membuat kebijakan pemberdayaan konsumen yang didasarkan pada 3 prinsip pendekatan, yang untuk memudahkan disebut SMARTS 3, yaitu:

  1. Smart Policy dan Smart Regulatory: upaya pengembangan kebijakan yang bertujuan untuk menghasilkan suatu kebijakan/regulasi yang cerdas, yang dalam penerapannya dapat melindungi konsumen dan secara lebih luas lagi dapat mengamankan pasar dalam negeri.
    • Kebijakan ini mencakup program Penyusunan perangkat kebijakan perlindungan konsumen, serta Evaluasi dan analisa kebijakan perlindungan konsumen.
  2. Smart consumers/Traders/Producers: upaya memberdayakan konsumen untuk menjadi komunitas konsumen yang cerdas dan meningkatkan tanggung jawab pelaku usaha agar berorientasi perlindungan konsumen, tertib ukur, tertib mutu dan tertib usaha.

Kebijakan ini mencakup program Pembudayaan kepada masyarakat (konsumen, pelaku usaha, aparat); Sosialisasi/Publikasi/Diseminasi; Koordinasi dan partisipasi aktif dalam forum komunikasi lintas sektor; dan Membentuk motivator perlindungan konsumen.

  1. Smart Partnership, yaitu pengembangan kelembagaan dan meningkatkan jejaring koordinasi dengan lembagalembaga perlindungan konsumen dalam penyelesaian kasus dan sengketa konsumen dengan pelaku usaha yang mencakup program Penguatan dan pengembangan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), Mengembangkan kemitraan dan faslitasi Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM), serta Konsultasi dan pengembangan advis dengan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) [8].

 

 

Cerita di Lingkungan Sendiri

Teman-teman saya banyak yang berjualan. Melalui grup whatsapp, kami bisa saling mempromosikan barang-barang yang kami perjualbelikan. Suatu ketika ada yang mem-posting foto sepatu merk Converse dengan harga yang lebih murah dari harga aslinya. Reaksi teman-teman di grup adalah menanyakan, “apakah sepatu tersebut asli?” ketika dijawab bahwa itu sepatu KW super, grup pun mendadak sepi. Syukur ternyata masih banyak yang peduli dengan keaslian barang.

maskot

Didit (33 tahun), sempat tergiur dengan jam bermerk Seven Friday yang dilihatnya di Instagram. Beberapa waktu sering menceritakan rencana membeli jam tersebut. Didit tergiur karena harganya yang hanya ratusan ribu saja dan modelnya yang bagus. Tentunya yang dijual di akun instagram tersebut adalah barang KW atau palsu.

Ketika kami sampai di salah satu toko jam, salah satu jam yang dijualnya bermerk Seven Friday. Penjualnya bercerita bahwa itu adalah jam KW, hanya 300 ribu rupiah. Masih kata penjualnya, Seven Friday asli bisa mencapai 30 juta rupiah. Sedangkan yang KW1 seharga 12 juta rupiah. Katanya, yang KW karena lebih banyak dicari. “Kalau rusak lebih mudah diperbaiki karena menggunakan batere. Kalau yang asli justru sulit diperbaiki karena tidak pakai batere, “jelasnya.

“Jam tersebut memang bergengsi. Tapi bagaimana kalau kamu bertemu dengan orang yang mengerti barang-barang yang berkualitas?” tanya saya pada Didit.

Beberapa hari kemudian, saya coba tanya lagi. “Jadi mau beli jam itu?”.

“Ngga deh. Kalo ketemu orang yang ngerti barang bisa malu”, katanya.

082

Seven Friday Asli (kiri) dan Seven Friday Palsu (kanan). Sumber:www.jamtanganpremium.blogspot.com

 

Barang KW Dijual di Tempat Resmi

Di Jakarta, barang-barang KW biasanya hanya dijumpai di pasar-pasar tertentu dan toko-toko kecil saja. Tapi saat saya berkunjung ke Bandung pada akhir Desember 2015 lalu, beberapa pusat perbelanjaan yang cukup berkelas ternyata juga menjual barang-barang KW, salah satunya di Rumah Mode[9].

Di sisi lain, saya sering melihat teman-teman saya yang berasal dari daerah memakai barang-barang seperti jam dan sepatu dengan merk yang saya sendiri sampai berpikir-pikir dahulu untuk membelinya. Sampai kemudian saya menemukan sepatu sejenis di Cibaduyut, Bandung dengan harga yang sangat murah. Dan ternyata banyak juga yang menjualnya melalui balckberry messenger (BBM), whatsapp (WA), ataupun facebook (Fb)dan instagram (IG).

Orang daerah dan menengah ke bawah tidak terlalu peduli apakah barang yang mereka beli asli apa palsu. Bagi mereka yang penting murah, terlihat bermerk, dan modelnya sesuai. Bahkan Didik (31 tahun) yang dari Purworedjo sempat tertarik dengan salah sepatu palsu yang sempat dipegangnya. “Mahal ya, 90 ribu, “ katanya. Teman-teman dari daerah yang lainnya juga sempat mengeluhi harga sepatu Nike palsu yaitu Rp.300.000. Mereka tidak tahu bahwa itu adalah sepatu Nike palsu.

 

Fenomena Barang KW

Barang KW atau palsu marak beredar. Entah sejak kapan awal mula adanya barang KW. Untuk menaikkan gengsi, ditambah label KW Super. Katanya KW Super ini hampir mirip dengan yang asli. Gengsi seperti ini justru menjadi bukti rasa tidak percaya diri dengan apa yang dimiliki. Tidak percaya diri menggunakan barang yang merknya  tidak terkenal meskipun asli. Mestinya, dengan rasa gengsi ini, justru dapat melahirkan karya dengan label sendiri, bukan menjiplak karya orang lain atau bangsa lain.

Membeli barang KW bukan sekedar membuat malu diri sendiri di hadapan mereka yang mengerti barang asli, tapi juga cermin kepribadian. Senang menggunakan barang KW hanya supaya terlihat bergengsi. Sikap ini berefek pada keseharian yang cenderung suka menebar sikap kepalsuan demi citra positif, baik, dan bergengsi.

Sebagai manusia, semua pastinya diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan. Dengan citra yang dibuat-buat tersebut, kepribadian asli kita tidak terlihat. Padahal ada keunikan pada tiap pribadi jika mau tampil apa adanya.

Orang-orang seperti ini cenderung merasa rendah diri dan orang lain dianggap lebih baik dalam hal apapun darinya. Kepribadian inilah yang telah lama tertanam dalam diri bangsa Indonesia. Merasa rendah di hadapan bangsa lain karena merasa tidak mampu melakukan hal yang sama dengan bangsa lain.

 

Aturan Pemerintah

Pemerintah telah mengatur tentang perdagangan produk atau barang palsu atau yang juga dikenal dengan barang “KW” dalam Pasal 90 – Pasal 94 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek  (“UU Merek”)[10].

UU Merk-77

Pasal 76-78 UU Nomor 15 Tahun 2001 Tentang merk.

UU Merek

Berdasarkan Pasal 89 ayat (1) UU Merek, selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (“PPNS HKI”) diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Merek.

Direktorat Penyidikan HKI juga berfungsi untuk memonitor penegakan hukum HKI, memberikan peringatan terhadap pelanggar HKI, litigasi dan menjadi ahli HKI dalam proses hukum. Dijelaskan juga bahwa selama ini peran monitoring tidak dilakukan oleh Ditjen HKI. Baru setelah ada Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran HKI (“Timnas HKI”) yang dibentuk pada 27 Maret 2006, pemantauan penegakkan HKI dilakukan.

infografis hak &kwajiban konsumen

doc.pribadi

Info lebih lanjut tentang perlindungan konsumen dan tertib niaga dapat dilihat di http://ditjenpktn.kemendag.go.id/

 

Barang Lokal Tidak Kalah

Konsumsi produk dalam negeri sangat membantu kelangsungan hidup produsen dan tenaga kerja di dalam negeri karena akan meningkatkan pendapatan masyarakat, meningkatkan penghargaan terhadap hasil karya bangsa sendiri, serta mengurangi ketergantungan pada produk impor. Demikian dikatakan oleh Menteri Perdagangan Rahmat Gobel di tengah acara puncak Hari Konsumen Nasional 2015 di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta.

QUOTE RACHMAT GOBEL

doc.pribadi

Lebih lanjut, Rachmat Gobel meminta agar konsumen Indonesia jangan mau lagi terkecoh dengan maraknya produk impor. “Contohnya impor pakaian bekas, keberadaanya di dalam negeri saja sudah ilegal, tidak ada jaminan pula aspek kualitas, kebersihan, dan higienisnya”, jelasnya.

Pemerintah terus berupaya meningkatkan keberdayaan konsumen guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Tak hanya paham akan hak dan kewajibannya, tetapi konsumen diharapkan mampu menggunakan hak dan kewajibannya untuk menentukan pilihan terbaik, termasuk menggunakan produk dalam negeri untuk dirinya dan lingkungannya.

13015530_248944412119151_6380294143909067251_n

Sumber:kominfo.go.id

“Peningkatan keberdayaan konsumen ini tidak hanya menambah perlindungan hak-hak konsumen, tetapi juga mendorong kesadaran dan kewajiban konsumen yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas dan pertumbuhan industri, serta perekonomian nasional,“ kata Menteri Perdagangan Rachmat Gobel.

pengaduan konsumen

Sumber doc.pribadi

Meningkatnya Indeks Keberdayaan Konsumen (IKK) dari ‘paham’ menjadi ‘mampu’, maka dalam lima tahun ke depan masyarakat Indonesia akan mengutamakan produk buatan dalam negeri, mampu menentukan produk yang berkualitas, serta mampu memperjuangkan haknya. Dengan demikian, pelaku usaha juga akan terpacu untuk menjaga kualitas dan memberikan pelayanan prima. Untuk itu pemerintah akan terus meningkatkan edukasi dan membangun kesadaran konsumen, serta pembinaan kepada pelaku usaha.

 

“Kemampuan ini tidak hanya menguntungkan masyarakat sebagai konsumen, tetapi juga akan mendorong laju pertumbuhan ekonomi nasional yang 60%-nya disumbang dari konsumsi di dalam negeri,” lanjut Rachmat[11].

 

 

Bangun Citra Diri Bangsa

Citra diri dikenal juga sebagai personal branding. Menurut Dewi Haroen, pengarang buku “Personal Branding”, seorang Psikolog dan Staf Pengajar di Trisakti School of Management sekaligus pendiri AMALIA Psychology Consulting  & Training Center, personal branding yang baik mesti melalui proses yang terus-menerus, bukan sekedar pencitraan sesaat di media masa.

Dalam buku “Personal Branding” yang dikarangnya, Dewi Haroen menyebutkan bahwa ada tiga cara dalam membangun personal branding yang mempesona tapi bukan manipulatif. Pertama, jadilah diri kita sendiri. Dengan menjadi diri sendiri orang sekitar lantas dapat benar-benar mengenali jati diri kita yang seungguhnya. Kedua, kenali diri kita. Dengan mengenali diri kita masing-masing, kita jadi tau apa kelebihan dan kekurangan kita. Dan ketiga, terus kembangkan seluruh kelebihan dan potensi diri kita. Potensi diri kita inilah yang menjadi brand yang dipasarkan[12].

Kini,  sudah banyak orang Indonesia yang berhasil berkarya di negeri orang.  Mereka adalah orang-orang yang mampu membangun dan menjaga personal branding yang mereka miliki. Sebutlah Prof. Ing. BJ Habibie, Khoirul Anwar, Ricky Elson, Sri Mulyani, Nelson Tansu, Muhammad Arief Budiman dan lain-lain.

Atau, coba lihat film Upin-Ipin, yang ternyata animatornya adalah anak musisi kenamaan Indonesia Ikang Fauzi, Marsha Chikita Fawzi. Kita juga mengenal Tex Saverio, desainer asal Indonesia yang karya-karyanya telah banyak dipakai oleh mulai artis dalam negeri yaitu Anggun C. Sasmi hingga artis kelas dunia seperti Lady Gaga, Jennifer Lawrence, dan Kim Kardashian.

Artis-artis kenamaan Indonesia dan artis luar negeri saja bangga memakai produk buatan anak Indonesia. Mereka menggunakan produk Indonesia karena mereka tahu produk tersebut berkualitas. Saya juga telah membuktikan bahwa produk Indonesia lebih cocok untuk saya gunakan ketimbang produk luar negeri. Banyak produk Indonesia yang lebih baik kualitasnya ketimbang produk luar negeri.

Jadi, dari pada jadi plagiator, tidak usah malu memasang merk sendiri. Dengan memasang merk sendiri, itu menjadi cermin pribadi yang percaya diri. Sehingga bangsa ini tidak merasa rendah dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lainnya.

 

[1] Sumber:www.wardahbeauty.com

[2] Berasal dari kata kwalitas, makna konotasinya berarti ‘tiruan’. Awalnya populer di kalangan produk tas wanita (branded atau bermerek terkenal). Sumber:www.kitabgaul.com/word/kw

[3] Sumber: Siaran Pers Pusat Hubungan Masyarakat, Kemendag.www.harkonas.id/berita.php?id=319

[4]  Sumber:www.bappenas.go.id/index.php/download_file/view/8163/1665/.

[5] Sumber:www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/Strategi%20Pemberdayaan%20UMKM.pdf.

[6] Sumber:www.economy.okezone.com/read/2016/02/25/320/1321075/karena-murah-masyarakat-ri-lebih-suka-batik-palsu-buatan-china

[7] Sumber:www.aliradar2004.wordpress.com/2008/07/28/seniman-bali-menangis/

[8]  sumber:www.ditjenpktn.kemendag.go.id/

[9] Hasil tinjauan langsung ke lokasi

[10] sumber:www.hukumonline.com/klinik/detail/lt522464e40449c/penegakan-hukum-perdagangan-barang-barang-kw

[11] Sumber: Siaran Pers Pusat Hubungan Masyarakat, Kemendag.www.harkonas.id/berita.php?id=319

[12] www.syamthing.blogspot.co.id/2014/04/membangun-personal-branding-yang.html

 

 

KEMENDAG-Poster3-FA_Blogger

Iklan

Tentang syamhais

Instruktur TIK Kemenaker RI; Psychoanalys
Pos ini dipublikasikan di Interaksi dan Komunikasi, Nasionalisme dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s