Dari Wanita Gaptek Menjadi Wanita Hi-Tech

 

Ingin mendapatkan tool dan tutorial pemrograman gratis? Kunjungi Intel Developer Zone http://sh.teknojurnal.com/witidz

Ini adalah bulan kedua aku kuliah di kampus terfavorit se-Indonesia dengan jurusan yang juga favorit. Bagi kebanyakan orang, bisa masuk Universitas Indonesia saja sudah sangat membanggakan karena beratnya persaingan masuk. Apalagi aku berhasil menyelesaikan soal-soal Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN)[1] dengan nilai yang mampu membuatku masuk ke salah satu jurusan favoritnya, Teknik Elektro.

Euforia kelulusan membuatku kurang menyadari bahwa aku harus menghadapi hal yang lebih berat lagi daripada saat-saat masih di Sekolah Menengah Atas (SMA). Masuk Teknik Elektro memang keinginanku, bukan paksaan siapapun.

Di SMA pelajaran yang paling kusukai adalah Fisika. Aku sangat tertarik dengan materi teori dan prinsip-prinsip penghitungan Fisika yang jauh lebih indah ketimbang matematika. Khusus materi kelistrikan, materi Fisika yang satu ini benar-benar sulit untuk bisa kukuasai. Semakin kupelajari, justru semakin tidak paham.

Motivasiku masuk Teknik Elektro adalah untuk melawan satu hal yang aku tidak bisa di pelajaran Fisika, yaitu kelistrikan. Motivasi yang agak aneh tapi di usia menjelang 20 tahun justru banyak yang melakukannya. Tujuannya apa? Tidak ada tujuan apapun. Aku hanya ingin jadi orang hebat, mengerti segala hal tanpa kecuali, itu saja! Tanpa kusadari kemampuanku tentang segala hal ternyata hanya di permukaan, tidak mendalam.

Tapi, jika dibandingkan dengan komputer, Fisika Listrik masih lebih baik untukku. Saat SMA, jika guru memberi tugas yang harus diketik komputer, biasanya langsung kuserahkan pada sepupuku untuk mengerjakannya. Aku hanya membuatkan isi tulisannya, sepupuku yang mengetikkannya. Pengetahun komputer di masa SMA benar-benar nol, meskipun sekedar seputar Microsoft Office seperti Ms.Word. Pilihan jurusan teknik Elektro masih lebih baik dan lebih keren menurutku.

***************************************

 

“Dasar Komputer”

Ah…. lagi-lagi kuliah Dasar Komputer. Namanya saja yang “Dasar”, tapi yang dipelajari adalah hal yang amat asing untukku. Awalnya kukira akan belajar seputar Windows dan Microsoft Office, ditambah sedikit materi Desain Grafis dan Multimedia. Materi seputar komputer yang dapat membuka wawasan dan kemampuanku yang sama sekali belum terbiasa menggunakan komputer.

Di awal memang dijelaskan sejarah komputer, perangkat-perangkat komputer, periferal komputer, sampai perangkat lunak sistem komputer dan aplikasi komputer. Kemudian yang diajarkan adalah diagram alir (flowchart).

Materi “Dasar Komputer” berikutnya adalah bahasa pemograman. Bahasa pemograman diajarkan sebagai aplikasi proses yang telah kami kerjakan di flowchart. Tidak seperti kebanyakan aplikasi komputer, bahasa pemograman mengharuskan kita menulis perintah-perintah yang dipahami komputer yang saling terkait satu sama lain agar menghasilkan aplikasi yang diinginkan.

Ya, perintah-perintah tersebut harus dipahami komputer. Jadi karena kita bicara dengan komputer yang tidak pernah memahami bahasa manusia, digunakanlah bahasa pemograman sebagai perantara komunikasi antara manusia di komputer.

Berbicara dengan komputer tentunya berbeda dengan manusia. Kita bisa meminta tolong Office Boy di kantor untuk membelikan makan siang di warteg langganan. Dengan hanya menuliskan menu yang kita inginkan Office Boy bisa langsung membelikannya di warteg yang dimaksud. Lain hal dengan komputer.

Komputer harus diberitahu dahulu arah jalan yang harus dilewati. Langkah pertama jalan ke arah mana? Lalu tanyakan, apakah ada belokan? Jika ya, pilih belok kanan, lalu lurus. Dan seterusnya, ada proses percabangan ketika menentukan belok ke mana. Ketika sampai di tempat, tanya apakah tempat yang dituju adalah tempat yang dimaksud? Jika ya berhenti. Jika tidak teruskan perjalanan.

Slide4

Contoh algoritma: menghitung nilai maksimum

 

Begitu pula saat memesan menu. Komputer akan menanyakan dahulu. Apakah sudah bertemu pelayan warteg atau tidak. Jika tidak, ulangi lagi langkah-langkah atau algoritma mencari pelayan, sampai ditemukan. Langkah-langkah ini menjadi sangat panjang karena mesin komputer tidak mengetahui mau kita dan tidak memiliki memori bawah sadar.

Bahasa Pascal menjadi bahasa pemograman pertama yang harus kupelajari. Aku pusing, semua syntax dalam bahasa Pascal asing bagiku. Terlebih, tidak ada bahasa Indonesia dalam coding[2]-nya. Padahal bahasa Pascal tergolong bahasa tingkat tinggi dalam hirarki bahasa pemograman. Sekali-dua kali, aku masih coba untuk bertahan. Lama-kelamaan materi yang diberikan semakin asing dan semakin membuat mataku berkunang-kunang.

Ingin rasanya kuprotes penyelenggara kuliah yang telah membohongi kami. Nama mata kuliahnya “Dasar Komputer”, tapi isinya justru materi-materi ajaib yang memusingkan. Untuk memilih jenis data yang digunakan saja harus sesuai antara boolean, integer, string, atau char. Belum lagi prosesnya, looping atau percabangan? Belum lagi materi tentang array, mulai dari array sederhana hingga array komplek.

 

Hopeless Kuliah

Lama-kelamaan aku mulai hopeless kuliah. Niat mencari kuliah yang tidak ada materi komputernya, malah dapat materi komputer berbahasa aneh yang disertai syarat-syarat aneh dari kode-kode aneh. Perasaan penat ini tidak bisa dibohongi. Aku mulai memberanikan diri tidak masuk kuliah dan praktikum Dasar Komputer. “Toh orang tuaku tidak pernah memerhatikan jadwal kuliah aku,” pikirku.

Hari itu aku mencoba untuk tidak masuk kuliah. Wow, rasanya enak sekali. Aku pun menambah sampai beberapa hari. Hari pertama kunikmati dengan menonton televisi. Hari kedua dan ketiga aku malah kepikiran dan stres akan masa depanku. Ibuku pun mulai heran melihat aku tak kunjung berangkat kuliah.

Teman-teman di kampus mulai khawatir dengan ketidakhadiranku. Salah satu dari mereka meneleponku dan mencoba kembali membangkitkan motivasi kuliahku. Setelah bercerita dengan salah satu teman, ternyata dia juga merasa tidak mampu mengikuti kuliah “Dasar Komputer”.

“Teman-teman yang lain juga banyak yang tidak mengerti, tapi kita harus belajar. Sayang, kita uda masuk Elektro UI saja sudah sangat beruntung. Ada banyak orang di luar sana yang ingn menjadi kita”, ucapnya membangkitkan kembali motivasiku.

Aku pun mencoba kembali menyemangati diri kuliah di Jurusan Teknik Elektro UI yang amat susah untuk bisa masuk ke dalamnya. Namun aku benar-benar tidak bisa memaksakan diriku, saat diumumkan akan ada ujian praktikum “Dasar Komputer” dengan materi bahasa Pascal, aku kembali tidak berani masuk. Dari hal ini, akupun sudah siap menerima risiko nilai D untuk kuliah “Dasar Komputer” beserta praktikumnya.

 

Memilih Program Studi Komputer

Banyak orang yang berasumsi bahwa Program Studi Komputer di Teknik Elektro UI hanya mempelajari seputar perangkat keras. Ini asumsi yang salah. Dari semester satu saja kami sudah diajarkan salah satu bahasa pemograman, Pascal. Setelah “Dasar Komputer”, pada semester dua kami belajar “Algoritma dan Pemograman”. Materi kuliah ini masih menggunakan bahasa Pascal, tapi pembahasannya lebih terperinci, lebih lanjut, dan lebih mendalam terutama tentang algoritma pada bahasa pemograman.

Pada mata kuliah “Dasar Sistem Komputer”, kami juga belajar bahasa Assembler atau dikenal dengan bahasa tingkat rendah. Bahasa assembler ini jauh lebih sulit ketimbang bahasa Pascal. Syntax dalam bahasa assembler lebih sulit dipahami. Tapi tidak butuh waktu lama untuk eksekusi program karena langsung terhubung dengan prosesor komputer. Setelah pemilihan program studi, kami juga diajarkan bahasa pemograman berorientasi objek, Java.

Perjalanan hidup seseorang memang tidak mudah diterka, termasuk perjalanan hidup kita sendiri. Sering kali apa yang ditakuti, itulah yang menjadi pilihan. Semester lima adalah saat mahasiswa memilih program studi. Di Teknik Elektro UI ada lima progam studi. Mulai dari Tenaga Listrik, Elektronika, Komputer, Telekomunikasi, hingga Sistem Kendali.

Setelah melewati berbagai pertimbangan, aku memberanikan diri memilih Program Studi Komputer. Alasannya, komputer adalah hal yang pasti dipakai di mana pun di industri-industri besar manapun ataupun perusahaan jasa. Ada ketakutan akan sulitnya bahasa pemograman. Namun terbiasa diberi tugas dan praktik pemograman, membuat hal itu tidak lagi menjadi hal yang asing dan menakutkan.

 

Ingin Jadi Orang yang Bermanfaat

Impian terbesarku adalah menjadi orang yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Sesuai dengan salah satu Hadits Nabi Saw yang diriwayatkan oleh H.R Thabrani. Aku bisa merasakan nikmatnya kuliah di kampus terbaik di negeri ini. Kampus yang pada saat aku kuliah masih disubsidi pemerintah dari pajak-pajak rakyat Indonesia. Hal ini membuatku sadar bahwa adanya amanah berupa pengabdian pada nusa dan bangsa. Aku musti bisa mengembalikan kesempatan belajar ini pada rakyat Indonesia.

Sering terbayang akan betapa indahnya jika aku bisa menjadi orang yang bermanfaat dengan menebar ilmu pada siapapun yang membutuhkan keahlian untuk bekal mencari pekerjaan atau berwirausaha, khususnya pada mereka yang tidak mampu untuk membayar kuliah atau kursus. Sering terbayang, aku bisa ke pelosok-pelosok negeri mengajari keahlian di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Sudah banyak pekerjaan yang aku lalui. Mulai sebagai engineer di dunia telekomunikasi hingga “Media Konsultan” di pemerintahan. Aku memang kurang minat dengan tawaran pekerjaan sebagai programmer. Seperti kebanyakan orang, akupun ingin pekerjaan yang mudah. Bukan pekerjaan yang memusingkan seperti coding untuk membuat aplikasi menggunakan bahasa pemograman.

Tahun kedua menjadi “Media Konsultan” membuatku sulit membuat keputusan. Apakah melanjutkan kontrak kerja atau melamar sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) agar tidak lagi khawatir dengan status pegawai kontrak. Sebelumnya aku termasuk yang tidak mau menjadi PNS. PNS banyak yang tidak masuk kerja, datang hanya mengisi absensi. Korupsi di pemerintahan yang uangnya berasal dari pajak rakyat juga begitu besar.

Tapi Allah Swt berkehendak lain. Aku mencoba shalat istikharah dan meminta tanda-tanda untuk meyakini pilihan. Tanda-tanda yang kuminta berupa sakit beberapa hari dan tidak bisa masuk kerja, jika memang harus berhenti sebagai “Media Konsultan” dan melamar sebagai PNS. Dan ternyata aku memang sakit, gejala thypus. Di awal, aku masih ragu. Bisa saja badanku sedang dalam kondisi lemah.

Karenanya untuk meyakinkan diri, aku berdoa dan meminta agar tanda-tanda ini diperlama sampai batas akhir kontrak kerja sebagai Media Konsultan. Subhanallah, sakit yang kualami berlangsung lama, bahkan sampai jelang memutuskan kontrak kerja sebagai Media Konsultan. Kemudian akupun menghadap leader untuk tidak melanjutkan kontrak kerja dan melamar sebagai Calon Pegawai negeri Sipil (CPNS).

 

Menjadi Instruktur TIK

Tahun 2012 masih menjadi tahun moratorium penerimaan PNS pemerintah pusat. Hanya beberapa Kementerian yang buka lowongan. Itupun hanya formasi-formasi yang sangat mendesak dibutuhkan di seluruh pelosok-pelosok nusantara seperti tenaga pengajar dan pendidik, serta dokter.

Meski ada rasa takut kalau akan ditempatkan di pelosok nusantara, aku tidak mau berhenti di tengah jalan. Pada akhirnya hanya satu kementerian yang bisa kulamar, yaitu Kementerian Ketenagakerjaan RI. Formasi yang dibuka adalah instruktur, untuk penempatan seluruh Indonesia. Dalam pikiranku, instruktur adalah instruktur senam. Jadi untuk Teknik Elektro dengan Program Studi Komuter, sama sekali tidak ada bayangan.

Seandainya ditempatkan di pelosok nusantara, aku yakin itu sudah menjadi jalan terbaik. Karena sebelumnya telah melewati shalat istikharah dan tanda-tanda yang diperlama. Lamaran calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tetap kuteruskan. Alhamdulillah, ternyata lokasi penempatan tidak terlalu jauh, di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Bekasi. Sehari-hari aku bisa berangkat dari rumah yang berlokasi di Asem Baris, Jakarta Selatan hanya sekitar 40 menit menuju kantor.

IMG-20160421-WA0004

Masa prajabatan dan hari pertama penempatan di BBPLK Bekasi membuatku tahu tentang profesi instruktur. Instruktur adalah bagian dari profesi pendidik di negeri ini. Profesi guru dan dosen tergolong profesi pendidik yang memfokuskan pada pengetahuan. Instruktur adalah profesi pendidik yang difokuskan pada pelatihan untuk menghasilkan tenaga kerja yang terlatih dan terampil.

Khusus profesi instruktur yang berada di bawah Kementerian Ketenagakerjaan atau Dinas Tenaga Kerja, sasaran yang menjadi peserta pelatihan kami adalah para pencari kerja yang membutuhkan keahlian untuk bekerja tapi tidak mampu mengeluarkan biaya untuk mengikuti kursus-kursus yang diselenggarakan lembaga kursus swasta. Persis seperti yang aku impikan !

Sebelum menjadi instruktur, kami mesti mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Dikdas) Instruktur selama tujuh bulan. Dikdas diselenggarakan di empat BBPLK, yaitu Bekasi, Serang, Sermarang, dan Bandung. Perbedaan tempat penyelenggaraan didasarkan pada latar belakang pendidikan jurusan masing-masing peserta Dikdas saat kuliah.

Proses Dikdas yang begitu padat terbagi menjadi tiga fase: tiga bulan materi teknis, tiga bulan materi Metodologi Pelatihan, satu bulan On the Job Training (OJT) di industri. Meski kami sudah berstatus sebagai PNS, kami tetap harus mengikuti OJT di industri. Tujuannya agar kami dapat memahami lebih dalam tentang proses dan budaya kerja di industri.

Di kantor, banyak yang heran dengan semangatku mengajar yang sangat tinggi. Mereka tidak tau bahwa ini adalah profesi yang kuimpikan sejak lama. Menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitar dengan menebar ilmu dan keahlian pada mereka yang membutuhkan. Setelah malang-melintang bekerja, segala hal yang berkaitan dengan dunia TIK yang awalnya menakutkan justru menjadi begitu menarik bagiku.

DSC00051

Saat mengajar di salah satu kelas program pelatihan komputer di BBPLK Bekasi

Sering terkena virus komputer membuatku tahu bagaimana cara merawat komputer agar tidak mudah terserang virus. Kebiasaan ini membawaku mudah menularkan ilmu seputar sistem komputer pada paket pelatihan Computer Technical Support. Saya juga senang mengedit foto dengan Photoshop. Dan ternyata ada paket pelatihan Desain Grafis yang dapat memaksakan saya mengembangkan kemampuan di bidang Desain Grafis.

Terakhir, karena saya senang mengajar, saya juga dipercaya mengajar bahasa pemograman seperti VB.NET dan Java. Sejak menjadi instruktur TIK, kemampuan komputer saya benar-benar terasah karena banyaknya Diklat Upgrading Instruktur[3]  dalam rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

IMG_20151110_085203

Saat mengikuti Upgrading Jaringan Komputer di BBPLK Bekasi

Program paket pelatihan Kejuruan TIK di BBPLK Bekasi terdiri dari Pengoperasian Komputer Dasar, Computer Technical Support, Jaringan Komputer, Web Programming, Visual Programming, serta Desain Grafis dan Multimedia. Kami menerima siapapun yang membutuhkan keahlian teknis tanpa dipungut biaya sepeser pun.

 

banner

 

 

[1] Sampai tahun 2001, ujian seleksi masuk namanya masi UMPTN, dilaksanakan serentak se-Indonesia.

[2] Pemberian penetapan kode menggunakan huruf atau angka atau kombinasi huruf dalam angka yang mewakili komponen data dalam bahasa pemograman

[3] Hanya bisa diikuti mereka yang sudah mengikuti Dikdas

Iklan

Tentang syamhais

Instruktur TIK Kemenaker RI; Psychoanalys
Pos ini dipublikasikan di Interaksi dan Komunikasi, internet, Tak Berkategori dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s