Yuk , Wisata Jakarta dengan KRL !

“Wah kayaknya bakal…… kaleng susu lagi nih”

“Yah, pendek”

Itu adalah dialog yang sering mengisi kejenuhan saya dan kawan-kawan saat menunggu kereta untuk berangkat pulang-pergi rumah-kampus. Kali lain, kami juga sering menjadikannya tebak-tebakan. “Kali ini yang muncul kereta pendek apa kaleng susu?”.

Kaleng susu adalah sebutan yang diberikan para pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) kepada salah satu jenis kereta. “Rangkanya seperti kaleng”, kata salah seorang teman yang juga menjadi genk angker alias anak kereta. Tapi kereta kaleng susu ini gerbongnya panjang, menempati seluruh badan stasiun.

Jenis kereta lain yang biasa kami gunakan adalah kereta yang hanya terdiri dari beberapa gerbong. Jenis ini hanya menempati 1/3 dari keseluruhan badan stasiun. Kami musti lari terbirit-birit demi mengejar kereta pendek ini. Di dalam, kami musti rela berdesak-desakan, hingga stasiun tempat kami turun. Bukan hal yang nyaman, belum lagi harus berdesakan dengan berbagai aroma tubuhnya masing-masing. Mulai dari bau keringat, bau rokok, hingga bau amis ikan yang tidak laku.

news.liputan6.com

Sampai pada awal 2000-an, banyak pengguna kereta yang nekad naik ke atap tanpa memedulikan keselamatan dirinya. Sumber foto: antara foto

kaskus.co.id

Aktivitas menunggu kereta. Sumber foto: merdeka.com

 

Kereta, Dahulu

Pertama kali saya berkereta adalah pada 1998. Saat itu saya bermaksud minta diantarkan kakak dan mama untuk membeli kacamata di kawasan Mangga Dua. Kebetulan itu adalah hari minggu, kereta yang dinaiki lancar dan tidak terlalu penuh. Saya benar-benar menikmati perjalanan ke kawasan Jakarta Kota untuk yang pertama kalinya. Gambaran Jakarta yang begitu kontras benar-benar tertangkap melalui kaca jendela kereta. Gedung-gedung tinggi nan mewah dengan cepat berganti dengan gubug-gubug liar di sepanjang jalan.

Tahun 2001-2006 saya rutin berkereta. Saat itu jumlah kereta belum sebanyak sekarang. Berkereta kami pilih karena kecepatannya. Tapi soal keamanan dan kenyamanan? Hmmmm……. nanti dulu.

Saat itu kereta sudah banyak yang on-time, tapi banyak pula yang gangguan sinyal ataupun mogok. Kalau sudah mogok, bisa lebih dari satu jam menunggunya. Pernah juga kereta berhenti lama sekali di tengah jalan, padahal satu stasiun lagi kami sudah bisa turun. Karena tidak sabar menunggu, kampi pun turun di jalan lalu berjalan kaki mencari jalan pintas menuju kampus. Huffff….. untung saja kampusku menyediakan bis kampus yang lokasi pemberhentiannya tidak jauh dari lokasi kami turun dari kereta.

Kereta di pagi hari yang sebenarnya tidak penuh menjadi sulit dinaiki karena banyaknya pedagang yang duduk di lantai kereta, persis di depan pintu masuk kereta. Jumlah mereka bisa lebih dari 10 orang. Bukan sekedar duduk, mereka juga menempatkan dagangan mereka tepat di sebelahnya. Bau amis ikan yang sudah seharian di pasar tapi belum laku terjual membuat kereta menjadi sangat amis. Bau ini mengundang banyak sekali lalat untuk menari-nari di atasnya dan menciuminya beberapa saat, lalu kemudian menari-nari lagi. Mungkin ini yang dinamakan pesta pora untuk bangsa lalat. Pesta memang lebih sering kebahagiaan di atas kesedihan.

Bau keringat karena belum mandi beberapa hari para pedagang yang selonjoran ini makin menambah semerbak aneka ragam aroma khas kereta ekonomi. Kelelahan mencari uang membuat mereka tidak peduli dengan sekitar. Tidak peduli ada hak orang lewat untuk masuk kereta yang mereka halangi. Tak peduli dengan bau badan, rokok, dan amis ikan yang tak laku yang sangat mengganggu. Pulang di rumah, ibu sering mengeluh, “baju kamu bau rokok”.

Ada juga pengemis langganan khusus KRL. Ia menjadikan lukanya sebagai modal belas kasihan para penumpang kereta. Awalnya ia memang sakit, lukanya memang besar. Nikmatnya rupiah karena belas kasihan membuatnya enggan mengoperasi kakinya. Sampai beberapa tahun, ia tetap berjalan dengan menyeret kaki di lantai. Penumpang kereta pun hanya beberapa yang memberi, tidak lagi banyak. Ia lupa, kesembuhan kakinya lebih penting ketimbang sekedar mengharap belas kasihan dari penumpang yang sebagian besar itu-itu saja.

Riuh-rendah KRL diwarnai mulai dari pedagang asongan, pengamen, pengemis yang meminta sampai memaksa bahkan marah-marah, orang yang kecopetan atau orang yang mengaku-aku dicopet agar bisa mendapat uang dari belas kasihan. Lagi-lagi dari sesama penumpang kereta yang menengah bawah itu.

naningisme.wordpress.com

Kereta Ekonomi, penuh dengan pedagang, pengamen, dan tukang minta-minta. Sumber foto: kaskus.co.id

Pengamen di kereta kadang menjadi hiburan, kadang juga jadi ancaman. Hiburan, saat yang mengamen bersama teman-temannya dengan alat musik yang lengkap. Rasanya seperti menyaksikan konser live music, tapi di kereta. Ancaman, ketika tidak diberi malah marah.

KRL ekonomi pada 2000-an awal adalah khas moda transportasi menengah bawah. Tipikal masyarakat yang menilai sesuatu hanya dari tampilan luar. Tipikal masyarakat yang mudah berbelas kasihan pada mereka yang terlihat bekerja padahal bukan pekerjaan yang benar.

Suatu ketika kereta disapu anak kecil, penumpang kereta pun berbelas kasihan. Banyak yang memberikannya uang, termasuk saya. Perolehan dari kegiatan baru ini rupanya cukup menggiurkan. Berbondong-bondonglah anak-anak menyapu di kereta. Sejak itu, setiap naik kereta, selalu saja ada anak kecil yang menyapu. Sayang, hasil sapuannya tidak mereka kumpulkan. Malah sering dipojokkan di suatu tempat, atau lebih sering lagi dibung ke rel di luar kereta. Rel kereta pun menjadi kotor dan banyak tumpukan sampah.

Model karcis manual untuk penumpang kereta menyebabkan banyaknya penumpang-penunmpang yang tidak diharapkan. Banyak yang tak malu naik ke atap kereta. Sebagian memang gagah-gagahan, biasanya anak sekolah. Sebagian lagi yang nekad mengorbankan nyawanya demi bisa gratisan naek kereta ke tempat kerja.

****************************************************************

Nostalgia Kereta

Setelah lulus kuliah, sudah lama saya tidak naik kereta. Lokasi kantor pertama tidak mengharuskan saya menempuhnya dengan kereta. Begitu pula dengan kantor kedua, ketiga, dan seterusnya. Hingga tahun 2013, saya mendapatkan penempatan di Bekasi Selatan. Awalnya saya ingin berangkat dengan angkot. Sayang, jalur angkot begitu ramai dan macet. Malah kadang dari arah Bekasi ke Jakarta mengambil penuh jalur kami yang dari Jakarta ke Bekasi.

Pilihan kedua adalah naik Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB). Sayang, APTB mahal. Sekali naik musti mengeluarkan uang Rp. 8000- 11.000. Belum lagi Rp.3.500 untuk biaya masuk jalur busway. Sudah mahal, hanya ada pada jam 6.15 dan jam 7.40 untuk ke Bekasi Barat.

Sungguh tidak cocok dengan jam masuk kerjaku. Hanya bisa memilih antara kepagian atau kesiangan. Belum lagi keterlambatan kedatangannya. Aku pun mencoba beralih ke kereta. Itu pun setelah disarankan kawan dekatku. Katanya kereta sekarang sudah beda. Sudah banyak orang kerja yang berkereta ke kantor.

Perubahan kereta memang tidak langsung. Sempat digolongkan menjadi dua macam: Rp.6000 per perjalanan untuk ekonomi AC, dan Rp.1500 untuk ekonomi. Ekonomi AC pun sempat mendapat keluhan karena ternyata di dalam hanya kipas angin.

Kritik yang datang ditanggapi dengan baik oleh pihak KRL. Satu per satu dibenahi, sistem karcis dengan pemeriksaan manual diganti dengan model pemeriksaan otomatis. Kursi kereta empuk dan nyaman, tak lagi keras. Kita bisa naik kereta dengan nyaman tanpa takut adanya tindakan asusila.

Pemeriksaan karcis dilakukan secara otomatis oleh mesin di pintu masuk kereta. Semua penumpang tanpa terkecuali harus melalui pemerikasaan ini. Dengan sistem ini, pedagang, pengamen, peminta-minta, apalagi penyapu kereta tidak lagi masuk kereta. Ada aturan yang membatasi barang bawaan, sehingga tidak bisa sembarangan lagi para pedagang memasukkan barang-barangnya di kereta. Kereta jadi lebih aman dan nyaman karena tidak ada lagi gangguan-gangguan yang sering menjadi ancaman dan aroma-aroma tidak sedap penumpang liar kereta.

megapolitan.kompas.com

Tap kartu Multitrip di pintu masuk dan keluar. Bisa berfungsi sebagai pemerikasaan otomatis para penumpang KRL. Sumber foto: megapolitan.kompas.com

Gerbong wanita dikhususkan. KRL tidak lagi digolongkan, semua ber-AC. Tarif rata-rata hanya Rp.2000. Di tiap gerbong, ada petugas khusus yang  menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan penumpang. Petugas mengendalikan arus keluar-masuk penumpang agar tidak chaos.

Petugas meminta penumpang untuk memberikan kursinya untuk mereka yang diprioritaskan: ibu hamil, cacat, dan manula. Petugas juga menjaga agar tidak terjadi tindakan asusila atau kejahatan, atau pelanggaran norma-norma di dalam kereta. Mereka kadang juga dimarahi dan dicemberuti para penumpang yang tidak mau mengerti aturan.

Meski beberapa kali atap pengamanan atap kereta tetap diakali untuk bisa dinaiki, pihak KRL tak lelah terus memperbaiki celah tersebut. Hasilnya, naik kereta menjadi aman, nyaman, dan yang terpenting, bebas macet. Gangguan sinyal pun sudah berkurang.

news.arifhouse.com

Kereta sekarang sudah nyaman. Sumber: news.arfihouse.com

Hasilnya, KRL kini menjadi prioritas utama pengguna transportasi massal, terutama bagi yang menghindari macet dan polusi. KRL bukan lagi milik menengah bawah dengan bau badannya. Penumpang KRL kini wangi-wangi dan berpakaian bagus. Banyak senior di kampus yang juga pulang-pergi dengan berkereta. Pulang kerja, kita sering beramai-ramai dan bercanda ria di dalam kereta.

Wisata KRL Bersama TDB

Sabtu, 30 April 2016, pukul 9.00 WIB. Komunitas Tau Dari Blogger (TDB) bersama 20 masyarakat pecinta kereta api serta komunitas Jakarta by Train melakukan kegiatan Blogger Wisata KRL. Sungguh momen yang sudah saya tunggu-tunggu. Pertama, naik kereta itu tidak macet. Kedua, selain naik kereta, kita juga berjalan kaki menyusuri area-area wisata di sekitar pusat Jakarta.

IMG-20160501-WA0011

Bersama teman-teman Tau Dari Blogger (TDB) memamerkan kaltu multitrip khusus Blogger. Sumber: grup wa TDB

Setelah sekian lama, akhirnya saya bisa naik KRL dan jalan kaki lagi. Dahulu keduanya rutin saya lakukan saat kuliah. Jarak dari rumah ke stasiun kereta tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh sekaligus dengan stasiun kereta. Untuk menempuhnya dengan angkutan umum, malah harus berputar dahulu yang kadang malah jadi lebih lama dibandingkan dengan berjalan kaki. Jadilah setiap hari saya berangkat kuliah dengan berjalan kaki ke Stasiun Cawang kemudian dilanjutkan dengan KRL menuju kampus.

Teman-teman di kampus yang suka berbarengan dengan saya di kereta suka heran mendengar jawaban saya yang menempuh perjalanan ke stasiun dengan berjalan kaki. mungkin mereka pikir saya ingin berhemat. Makanya sering disarankan menaiki bus untuk pulang. Katanya ongkosnya tidak seberapa. Padahal bukan karena alasan hemat saya memilih pulang pergi ke stasiun dengan berjalan kaki.

Berjalan kaki bisa membakar banyak lemak. Badan jadi segar, jantung pun sehat. Penyakit pun jauh. Dahulu, ini adalah salah satu upaya saya menjadaga berat badan. Terus menggerakkan badan dan berkeringat karena saya tidak punya olah raga lain yang bisa saya rutinkan.

Kalau dahulu saya terbiasa berjalan kaki sendiri, kini bersama-sama kawan-kawan dari TDB. Berkumpul di Stasiun Manggarai dan dilanjutkan berkereta sampai Stasiun Gondangdia. Stasiun Gondangdia ternyata dekat dengan Patung Pa Tani. Dari Stasiun Gondangdia kami berjalan beramai-ramai layaknya turis menuju Patung Pa Tani.

DSC_4209

Dilanjutkan dengan berjalan kaki bersama. Senang dan Ceria bersama TDB. Sumber: doc.pribadi

Jakarta yang panas tidak membuat kami kelelahan. Teman-teman TDB juga banyak yang bercerita kalau momen berjalan kaki bersama ini sudah lama ditunggunya. Jalan kaki menjadi hal yang langka. Orang yang senang berjalan kaki bukan karena tidak mau keluar uang, tapi karena ingin sehat. Ingin mengurangi polusi di Jakarta. Semoga ke depan pemerintah lebih banyak mendukung penghijauan dan penertiban area trotoar dalam rangka pengurangan polusi.

Beberapa negara maju seperti Jepang dan Singapura sudah lama menerapkan ini. Masyarakatnya dimanjakan berjalan atau bersepeda ke sana-ke mari. Selain mengurangi polusi, masyaraktpun tidak stres karena macet atau karena persaingan model kendaraan yang dimiliki.

Di patung Pa Tani, kami hampir saja menerobos dengan menginjak rumput. Seorang teman pun berteriak meminta kami agar jangan menginjak rumput. Katanya, kita harus sayang lingkungan. Sungguh salut dengan kepeduliannya pada lingkungan di tengah maraknya anak alay yang bangga berfoto di area-area wisata dan meninggalkan jejak dengan merusaknya. Kami yang menginjak rumput pun malu dan berjalan berputar.

Tujuan berikutnya adalah Jembatan Kwitang. Maka kita pun berjalan sambil mendengarkan kisah Jembatan Kwitang dari salah satu pentolan TDB, bang Sobary. “Kematian Nyai Dasima terjadi di Jembatan Kwitang”, katanya. Kisah ini cukup historis. Lokasi pembunuhan kira-kira di bawah jembatan Kwitang perempatan (dekat toko buku Gunung Agung dan Markas Marinir Parapatan). Kisah tragis ini telah beberapa kali difilmkan, disamping sandiwara dan sinetron.

Lalu kami pun sampai di Museum Kebangkitan Nasional. Banyak anak kecil belajar menari di sana. Gedung ini dahulunya adalah Gedung sekolah dan asrama School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), atau Sekolah Dokter Bumiputra,  sekolah kedokteran para priyayi di jaman penjajahan.

DSC_4205

Berfoto bersama di Museum kebangkitan Nasional. Sumber foto: doc.pribadi

Dari Museum Kebangkitan Nasional kami kembali berjalan kaki. Kali ini menuju Baltic Ice Cream, yang merupakan perusahaan ice cream pertama di Indonesia yang berdiri sejak 1939.  Dengan harga yang sangat terjangkau (Rp.5000), kita sudah bisa merasakan nikmatnya es krim penuh cita rasa di sini.

DSC_4246

Habis makan Es Krim, foto bersama lagi dooonnnggg…… Sumbr foto: doc.pribadi

Perjalanan dilanjutkan ke Gedung PMI Jakarta Pusat. Tempat teman-teman TDB menyantap siang dan shalat dluhur. Tapi yang utama di sini adalah, kita bisa melakukan amal pada sesama melalui donor darah. Di sini kita juga bisa melakukan cek kesehatan fisik gratis.

Ternyata, hanya dengan menaiki KRL dan dilanjutkan dengan berjalan kaki di sekitarnya, kami sudah bisa mengunjungi berbagai objek wisata di Jakarta.

 

 

 

Iklan

Tentang syamhais

Instruktur TIK Kemenaker RI; Psychoanalys
Pos ini dipublikasikan di Interaksi dan Komunikasi, Nasionalisme, Reportase, Tak Berkategori dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Yuk , Wisata Jakarta dengan KRL !

  1. Saya termasuk beruntung juga pernah ngerasain dari yg empet2an mampet luar biasa..kayak pepes ikan kembung. Sampai beralih ke yg lebih manusiawi seperti sekarang . semoga ke depan nya lebih baik..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s