Ikhlas Beramal Berdayakan Lingkungan

Tidak perlu menunggu punya banyak uang atau kekayaan untuk berderma pada sesama. Tidak perlu menunggu punya banyak ilmu untuk berbagi ilmu. Tidak perlu mengharap imbalan atas jasa yang telah diberikan. Juga tidak perlu mengharap pujian masyarakat atas apa yang diperbuat. Sukarela, ikhlas berbagi ilmu demi tercapainya lingkungan hidup yang bersih agar anak-cucu menjadi sehat. Itulah prinsip yang dipegang oleh Roesmani, salah seorang Relawan Palang Merang Indonesia (PMI) di bidang Lingkungan Hidup.

Roes, panggilan sehari-hari Roesmani, hidup di lingkungan yang jauh dari layak untuk dijadikan tempat tinggal. Rumah-rumah di gang sempit tanpa cat tembok memenuhi lingkungan Rt. 04/09, belakang Masjid Kampung Bandan, Jakarta Utara. Agak sulit untuk sampai ke rumah Roes yang letaknya berada di dalam.

20160604_140336

Lingkungan di depan jalanan rumah Roesmini tinggal. Sumber: doc.pribadi

20160604_155724

Masuk ke dalam gang menuju rumah Roesmani. Sumber: doc.pribadi

 

Memberdayakan Sampah

Roes sering tidak nyaman dengan sampah yang berserakan halaman yang ada di lingkungan sekitarnya. Kadang kala ia menyapunya dan menggiringnya ke tempat pembuangan sampah. Tidak sekedar halaman rumahnya, tapi juga halaman-halaman tetangganya. Malah terkadang suka ada bangkai tikus dan sampah-sampah di depan rumah. “Saya bersihkan sampahnya, bisa sampai satu karung. Gak masalah, yang penting lingkungan bersih”, ujarnya.

Menjadi orang ikhlas itu memang sulit dipahami. Di tengah kehidupan masyarakat yang berorientasi materi, menjadi orang ikhlas justru terlihat aneh. Banyak tetangganya yang heran dengan apa yang dilakukan Roes. Banyak yang mencibirnya karena rajin bersih-bersih lingkungan padahal tidak ada yang membayar.

Tak jarang ada yang memfitnahnya menginginkan jadi pengurus Rukun Tetangga. “Kalau lingkungan bersih keluarga kita juga jadi sehat,” jawabnya saat menjawab cibiran para tetangga yang dilanjutkan dengan mengajak orang yang mencibirnya diajarkan membuat tas dari sampah bungkus kopi.

Berawal dari sampah-sampah botol di lingkungan sekitarnya, Roes berinisiatif memanfaatkannya menjadi wadah untuk menanam kembali biji-biji sirsak, sri rejeki, srikaya, dan ginseng agar bisa menjadi tanaman. Menurutnya, sampah-sampah botol itu bisa dimanfaatkan sebagai pot untuk menanam bibit. Biji-biji salak, si rejeki, ginseng, dan cabai ia peroleh tidak sengaja dari bekas sampahan orang yang habis makan buahnya.

20160604_141526

Pot dari botol bekas di depan rumah Roesmini. Sumber: doc.pribadi

“Nanti kalau sudah besar bisa dipindahkan ke ember bekas supaya bisa berbuah”, katanya.  Bagian bawah tanah dalam pot ia lapisi sayur-mayur yang sudah basi. “Sayur-sayur basi ini bisa jadi pupuk tanaman,” ungkapnya menjelaskan. Roes biasa meminta pada tetangga atau tukang sayur yang punya sayuran basi yang sudah akan dibuang.

Hal tersebut juga ia lakukan di gedung LPS PMI. Berawal dari biji sirsak, Roes mencoba memendamnya dalam tanah yang dilapisi sayuran basi. Biji sirsak itu kemudian tumbuh menjadi pohon sirsak yang sangat subur.

20160604_160035

Pos SIBAT PMI. Sumber: doc.pribadi

Selain menanam sirsak dan ginseng di halaman rumah, Roes juga mengajak tetangganya menanam di halaman rumah. Beberapa rumah sudah mengikuti jejak Roes. Pernah suatu ketika lahan tempat Roes menanam terpaksa harus dijual kemudian tanamannya ditebang. Roes sedih melihatnya karena tanamannya sudah sangat subur, terutama cabai yang bisa digunakan untuk mengurangi beban biaya masakan sehari-hari.

Di lingkungan perumahan yang amat sempit, Roes tak kurang akal dalam memberdayakan lingkungan. Salah satunya, ia manfaatkan jalanan di depan gang masuk ke rumahnya untuk menanam pepohonan rintisannya dan para warga sekitar. “Tetangga banyak yang tertarik untuk menanam. Tembok ini salah satu tempatnya”, ucap Roes sambil menunjukkan tembok ia para warga menanam.

20160604_155803

Memberdayakan tembok-tembok di lingkurang sekitar untuk menanam pohon. Sumber: doc. pribadi

Mengolah Sampah Bungkus Kopi

Roes juga senang mengolah sampah bungkus-bungkus kopi menjadi berbagai produk siap pakai. Di halaman rumahnya terpajang beberapa hasil kerajinannya dari mengolah sampah bungkus kopi. Mulai dari dompet, tas, sajadah, hingga tikar.

20160604_141801

Rumah yang sempit membuat Roes memajang tas hasil karyanya di sela-sela mana saja yang masih ada tempat. Sumber: doc.pribadi

Tidak seperti pada umumnya olahan bungkus kopi yang dijadikan dompet atau tas. Hasil kreasi Roes sangat rapih dan memiliki pola tersendiri. Hampir-hampir tidak dikenali kalau itu berasal dari bungkus kopi. Para tetangga jika melihat Roes bolak-balik memakai tas hasil karyanya, banyak yang menyangka kalau itu tas mahal. Bahkan ada yang sirik dan menyangkanya sudah sombong karena sudah mampu membeli tas mahal. Dengan sabar, Roes pun mencoba menjelaskan pada mereka bahwa itu hasil kreasinya sendiri. Kalau mereka ingin, Roes bersedia mengajarkan.

20160604_142249

Contoh tas hasil kreasi Roes dengan bungkus kopi. Sumber: doc. pribadi

Untuk tas, Roes biasa menjualnya dengan harga 35-50 ribu rupiah. Sedangkan tikar, saat acara Susur Sungai sempat ditawar 300 ribu rupiah tapi ditolak oleh Sri, teman dekat Roes. “Sayang Roes, kamu kan buatnya sampai dua bulan”, jelas Sri pada Roes. Padahal Roes rela-rela saja tikarnya dibeli seharga 300 ribu rupiah. Uang 300 ribu rupiah sudah sangat besar baginya yang selalu kesulitan keuangan dalam menyambung hidup.

Tas tanpa jahitan hasil karya Roes juga mampu membawa singkong atau pisang seberat 5 kg. Tikar buatannya pun tebal, sehingga enak untuk dijadikan alas duduk. Ibunya di kampung juga memesan sajadah buatannya. “Katanya lebih enak sajadah buatan Roes, empuk”, cerita Roes tentang pendapat Ibunya.

20160604_142604

Tikar hasil buatan Roesmini. Sumber: doc.pribadi

Hasil karya Roes ini bahkan sudah ditawar oleh orang yang berasal dari Amerika. Banyak ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) daerah setempat yang tertarik dengan hasil karyanya. Roes menawarinya untuk belajar membuat tas darinya agar ilmunya bisa ditularkan juga pada yang lain. “Hitung-hitung mengurangi beban sampah”, jelas Roes. Tapi berhubung mereka kurang sabar dan telaten seperti Roes, akhirnya mereka pilih membeli.

Roes senang membagi ilmunya mengolah sampah bungkus kopi. Berbagai merk bungkus kopi telah ia berdayakan.  Bahkan ia pernah ditantang oleh pihak Indocafe untuk membuat tas dari bungkus indocafe dengan pola yang rapih. Ternyata Roes tetap mampu melakukannya.

Saat ini, hasil karya dari bungkus kopinya murni hanya dari lipatan-lipatan pola yang ada di bungkus kopi saja. Belum ditambahkan puring dan resleting sebagai  lapisan dalam atau agar hasilnya bisa lebih rapih dan cantik.

“Ada yang membeli tas saya, kemudian ditambahkan lapisan dalam dan ditambah resleting olehnya. Setelah itu laku dijual seharga 250 ribu rupiah”, ucapnya mengungkapkan. Tidak munafik, Roes juga ingin punya mesin jahit agar bisa menambahkan jahitan dan resleting di tas, dompet, atau tikar hasil karyanya sehingga memiliki nilai tambah yang jauh lebih besar.

 

Terbiasa Teliti dan Telaten

Kemampuan Roes untuk telaten, rapih, dan teliti dalam berkarya adalah berkat kegigihannya dalam memperjuangkan nasibnya dan anak-anaknya. Roes sudah lama menanggung kehidupan rumah tangganya sendiri.

Sebelum kepulangan suaminya ke pangkuan ilahi, Roes sudah terbiasa berjualan di bawah terik dan panasnya matahari. Kondisi suami yang sakit sampai tujuh tahun lamannya membuat Roes menjadi wanita perkasa yang selalu kuat dalam menghadapi persoalan dan beban hidup.

Bukan Roes namanya kalau ia hanya berdiam diri dengan keterbatasannya. Apalagi sampai meratapi nasib yang tak kunjung membaik. Roes terbiasa memutar uangnya dengan berjualan pisang agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Uang saya hanya 20 ribu. Makanya harus saya putar dengan berjualan pisang. Lumayan, saya bisa dapat 50 ribu”, jelasnya.

Meski kondisinya serba sulit, Roesmani tetap memberikan utang untuk mereka yang membutuhkan. bahkan terkadang ia berikan dagangan pada anak-anak yang ingin membeli tapi tak punya uang. Sayangnya, sikap baiknya ini justru malah berbuah amarah dari ibu si anak. Padahal Roesmani ikhlas memberi pada anaknya yang sampai menangis ingin kue pisangnya.

Bagi kebanyakan orang, uang 30 ribu mungkin kurang bernilai, tapi tidak bagi Roes. Kegigihan dalam menghadapi kesulitan hidup membuat Roes benar-benar merasakan betapa berharganya uang senilai 30 ribu.

Namun tidak sedikit tetangga yang fitnah. Ada yang bilang kue olahannya basi. Bahkan pernah ia ditolak penjual pisang karena dianggap akan berhutang kembali. “Padahal dia kenal lama dengan saya dan saya jelas-jelas bawa uang di depannya mbak”, ungkapnya sedih.

Tinggal di atas tanah sewaan pamannya yang sempit, awalnya Roes hanya menempati tanahnya dengan bata ditumpuk dan tenda sebagai atap. Sedikit demi sedikit, berkat kegigihannya, ia sudah bisa membangun rumah di atas tanah sewaan tersebut.

Roesmani adalah sosok wanita perkasa di era modern yang sesungguhnya. Ia bukanlah wanita yang tipikal sosialita yang ber make-up tebal dan berpendidikan tinggi yang kerap membawa tas-tas mahal sehingga mudah baginya menjadi donatur di  acara-acara sosial atau relawan. Ia juga bukan wanita yang berkelebihan harta dan ilmu sehingga mudah saja untuk berbagi. Ia hanyalah sosok wanita bersahaja yang berkelebihan kebaikan disertai rasa ikhlas yang tak terbatas.

 

Menjadi Relawan dan Mengajar

Terkadang Roes juga membersihkan sampah kopi Pos Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) PMI. Setelah diambil dan dibersihkan, kemudian dibuat pola untuk membuat tas, tikar, maupun sajadah. Di depan LPS pula Roes menanam bibit jambu dan sirsak mulai dari botol hingga menjadi pepohonan besar setelah tiga tahun lamanya. Warga dapat memanfaatkan daunnya untuk obat.

20160604_160059

Peohon sirsak yang ditanam Roes di SIBAT PMI kini sudah membesar. Sumber: doc.pribadi

 

Roes sama sekali tidak mendapatkan bayaran sebagai relawan. Hanya kadang PMI sering memintanya mengajar mengolah sampah menjadi tas. Dari mengajar tas ini ia peroleh upah 50 ribu dari jam 10 pagi hingga jam 1 siang.

Ia tidak tau pasti berapa sesungguhnya bayaran yang diberikan PMI. “Katanya sih 200 ribu mbak, tapi saya hanya dapat 50 ribu”, ucapnya menjelaskan. Dalam mengajar di PMI memang yang mengurus administrasinya adalah Sri, tetangga Roes yang menemaninya mengajar. Sri bisa membuat tas karena sebelumnya telah diajarkan oleh Roes.

Pernah akhirnya Sri mengakui kalau yang 150 ribu diambilnya karena ia punya banyak kebutuhan. Bagi Roes yang hidupnya lebih susah dari Sri, ia terima-terima saja yang 150 ribu diambil Sri asalkan Sri mau bicara dulu sebelumnnya.

Roes memang tidak peduli dengan bayaran. Ia hanya ingin berbagi dan berbagi. Saat akan berangkat mengajar pun Sri sering mengaku tidak punya ongkos. Dengan kebaikan hati Roes, ia bersedia mengongkosi Sri meski uang yang dimiliki hanyalah untuk ongkos ia dan Sri ke PMI.

Kini, anak tertua Roes juga diberdayakannya melipat bungkus untuk alat tulis. Satu bungkus bisa dihargai 100 rupiah. “Lumayan, buat mengisi waktunya yang baru lulus SMA”, jelas Roes.

Lingkungan yang kumuh dan jauh dari layak membuat anak tertua Roes kesulitan untuk mendapatkan informasi pekerjaan. Jangankan link yang bisa memasukkannya bekerja. Link untuk mendapatkan informasi pekerjaan saja sulit sekali didapat.

20160604_160041

Kondisi SIBAT PMI yang terkotori sampah. Roes sampai memaksa petugas setempat untuk segera memindahkan sampah tersebut. Sumber: doc.pribadi

Jangan diharap ia bisa mencari via internet atau koran. Selain pulsa internet yang tergolong mahal baginya. Handphone pun sudah lama mati dan tak bisa dipakai. Sedangkan handphone Roes hanya bisa untuk menelepon dan sms saja. Ia juga kesulitan untuk peroleh informasi dari teman sebayanya yang lebih terbiasa ber whatsapp ria ketimbang telepon atau sms.

 

Iklan

Tentang syamhais

Instruktur TIK Kemenaker RI; Psychoanalys
Pos ini dipublikasikan di Nasionalisme, Reportase, Tokoh Inspiratif, Urban dan tag , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

11 Balasan ke Ikhlas Beramal Berdayakan Lingkungan

  1. Kang Arul berkata:

    Perlu didukung gerakan seperti ini….

    Suka

  2. evrinasp berkata:

    ah saya suka dengan gerakannya, PMI terus maju ya, saya pernah ikut kegiatan ruwat bumi bersama PMI, luar biasa dedikasi mereka

    Suka

  3. duniabiza berkata:

    Bagus sekali ya mba. Bu Roes sangat menginspirasi. Maju terus PMI yang tak pernah berhenti berbagi…

    Suka

  4. Hastira berkata:

    yang gini ini patut dicontoh, seharusnay setiap rumah sudah mau memilah-milah sendiri sampahnay dan disetorkan ke bank sampah

    Suka

  5. Susan. berkata:

    Sosok yang luar biasa. Kalau saja wakil rakyat yang duduk manis di kursi senayan sana punya jiwa mengabdi seperti ini. Saya yakin bu Roes cuma bermodal hati, tapi justru itu yang tidak dimiliki mereka.

    Salam hormat untuk bu Roes.
    terima kasih mba syam sudah berbagi.

    Suka

    • syamhais berkata:

      Saya jadi teringat pedagang warteg yg di Serang. Mestinya Ibu Roesmani lebih layak disumbang uang ketimbang pedagang warteg tersebut
      Zaman skrg dua jarang banget ya mbak nemuin sosok berhati suci macam bu Roesmani

      Suka

  6. cumilebay berkata:

    Sukses buat kak roes, perlu terus di tularkan semangat nya kepada yang lain biar kampung bandan bersih sehat

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s